Ramalan emas yang nomor tiga, datang dari mahaguru junjungannya, Haji Oemar Said (H.O.S.) Cokroaminoto. Ia seorang penganut Islam yang saleh. Partainya, Sarekat Islam, mampu menggerakkan massa dalam jumlah yang sangat besar. Seperti halnya Douwes Dekker dan yang lain-lain, Cokro juga terbilang akrab dengan ruang pengap bernama penjara Belanda.
Bung Karno dalam banyak keterangannya menyebut Surabaya sebagai kawah candradimuka, di rumah Cokroaminoto pula ia mendapat gemblengan, sehingga melahirkan semangat nasionalisme yang berkobar-kobar.
Soekarno yang tinggal di salah satu kamar sempit, paham betul ritual keagamaan Cokro. Termasuk kebiasaannya shalat maghrib, dilanjut wirid dan doa hingga masuk waktu shalat isya.
Namun, ada satu hari yang begitu membekas di benak Sukarno.Malam itu, hujan turun membasahi Surabaya. Usai shalat shalat isya, ia berdoa lama, sebelum akhirnya selesai dan berjalan menghampiri keluarganya. Tak lama kemudian, dengan raut wajah serius, suara yang dalam, Cokro berkata kepada seluruh keluarganya, “Ikutilah anak ini. Dia diutus oleh Tuhan untuk menjadi Pemimpin Besar kita. Aku bangga karena telah memberikan tempat berteduh di rumahku.”
"Ramalan pertama tahun 1901. Ramalan kedua dan ketiga tahun 20-an. Dan Bung Karno mengungkapnya tahun 1965," ungkap Roso.
(Angkasa Yudhistira)