Di pantai utara Jawa saja, ada de¬lapan tempat yang disinggahi Cheng Ho. Mulai Sunda Kelapa (Ancol), Cirebon, Semarang, Demak, Lasem (masuk Rembang), Tuban, Gresik, hingga Surabaya. Dari Pelabuhan Ujung Galuh (Surabaya), Cheng Ho berlayar menyusuri Kali Brantas menuju Trowulan (Mojokerto), ibu kota Majapahit.
Cheng Ho menginjakkan kaki di ibu kota Wilwatikta itu pada 1406. Setahun setelah angkat jangkar dari Suzhou, Tiongkok. Setelah singgah di Champa, Ayutthaya, Malaka, Ancol, Cirebon, Semarang, dan beberapa pelabuhan di Jateng serta Jatim.
Anak buah Cheng Ho sempat terlibat perang antara Majapahit Barat dengan Raja Wikramawardhana dan Majapahit Timur dengan Raja Bhre Wirabumi. Literatur sejarah Tiongkok menyebutkan perang antara Raja Barat dan Raja Timur di Zhua Wa (Jawa).
Saat itu, Cheng Ho mengirimkan 170 anak buahnya ke kawasan dekat Semarang. Raja Wikramawardhana mengira pasukan itu sebagai bala bantuan untuk Bhre Wirabumi. Pasukannya langsung menghabisi 170 tentara Tiongkok tersebut.
Meski marah, Cheng Ho tidak menurutkan nafsu. Ia datang dengan sejumlah kecil pengiring. Karena menyadari kesalahannya, Wikramawardhana minta maaf. Wikramawardhana berjanji membayar ganti rugi 60 ribu tael emas. Cheng Ho setuju.
Lalu, Cheng Ho datang lagi pada pelayaran kedua. Namun, Wikramawardhana tak membayar penuh. Hanya 10 ribu tael emas. Cheng Ho tak mempermasalahkan hal tersebut. Sebab, Wikramawardhana sudah mengaku bersalah dan itu semua terjadi karena kesalahpahaman belaka.
Pada 1421, Laksamana Cheng Ho memimpin sebuah armada yang melakukan pelayaran ke berbagai penjuru dunia. Dengan panjang kapalnya yang mencapai 160 meter, ia memimpin kurang lebih 208 kapal berukuran besar, menengah, dan kecil yang disertai kurang lebih 27.800 awak kapal.
Armada besar ini dipimpinnya dengan dibantu 3 panglima: Hong Bao, Zhou Man, dan Zhou Wen. Cheng Ho bersama pasukannya telah menjelajah samudera selama 28 tahun (1405-1433 M).
Laksamana Cheng Ho berasal dari bangsa Hui, salah satu bangsa minoritas Tiongkok. Cheng Ho lahir pada 1371, dengan nama Ma He. Ia adalah putra kedua dari Ma Hazhi dan Wen.
Ia memiliki seorang saudara laki-laki dan empat perempuan. Keluarganya berasal dari Kunyang (saat ini Jinning), selatan Kunming atau barat daya Danau Dian di provinsi Yunnan.
Cheng Ho masih keturunan bangsawan Persia. Ia adalah cicit dari Sayyid Ajjal Syams al-Din Umar, seorang berkebangsaan Persia yang memiliki posisi strategis di Kekaisaran Mongol.
Sayyid Ajjal ditunjuk menjadi Gubernur Provinsi Yunnan pada masa pemerintahan Dinasti Yuan. Sejak kecil, Cheng Ho sudah fasih berbahasa Tiongkok dan Arab. Ia belajar pada ayah dan kakeknya. Ia juga mempelajari geografi dunia.
Pada 1381, ayahnya wafat karena hukuman eksekusi menyusul kekalahan Yuan Utara oleh pasukan Dinasti Ming yang dikirim ke Yunnan untuk membendung pemberontakan orang-orang Mongol yang dipimpin oleh Basalawarmi.
Saat itu, Cheng Ho memasuki usia 11 tahun. Ia pun ditangkap dan dijadikan kasim (pelayan yang dikebiri) di istana kaisar. Ia menjadi pelayan khusus Pangeran Zhu Di, anak keempat kaisar.
Pergaulannya dengan pangeran membuat Cheng Ho menjadi pemuda yang tangguh. Ia mahir berdiplomasi serta menguasai seni berperang. Ia kemudian diangkat menjadi pegawai khusus pangeran.