Ia mengatakan untuk mencapai target penumpasan stunting, seluruh elemen baik pemerintah maupun non pemerintah harus saling berkolaborasi.
"Pengambil kebijakan, akademisi, polisi, pebisnis dan organisasi juga harus masif ikut menyuarakan isu penumpasan permasalah stunting," tambahnya.
Peneliti senior SEAMEO RECFON dan Country Lead AASH Indonesia Umi Fahmida mengatakan bahwa, AASH merupakan studi interdisiplin yang dilaksanakan di tiga negara (India, Indonesia, Senegal) dan Lombok Timur menjadi lokasi di Indonesia.
"AASH bertujuan untuk mempelajari tipologi faktor-faktor yang membentuk jalur menuju stunting (stunting typology) dengan pendekatan anak secara utuh (whole child approach) termasuk komponen fisik (gizi, epigenetik, kesehatan saluran cerna), lingkungan pengasuhan, pendidikan dan pangan," kata dia.
Baca juga: 18 Target Pemerintah Turunkan Kasus Stunting
Dalam kesempatan yang sama Ketua Umum Nasyiatul Aisyiyah Diyah Puspitarini mengatakan masyarakat sipil menjadi salah satu pemeran penting dalan percepatan pengurangan stunting. Dia mengklaim Lazismu ikut berperan dalam menangani stunting di Indonesia.
"Kontribusi program Lazismu sebagai salah satu program pencegahan stunting bertajuk Peningkatan Kemampuan Gizi Seimbang Seluruh Indonesia di 34 Provinsi dan 462 Kabupaten/Kota," pungkasnya.
Baca juga: Menko PMK Beberkan 10 Provinsi dengan Angka Stunting Tinggi, Berikut Daftarnya
(Fakhrizal Fakhri )