Tanpa Senjata, Seorang Kopassus Hadapi 14 Ribu KKB di Rimba Papua

Fahmi Firdaus , Jurnalis
Selasa 16 November 2021 12:12 WIB
Prajurit Kopassus saat di hutan/ dok Kopassus
Share :

PAPUA atau Irian Barat bergabung ke Indonesia pada tahun 1963. Saat, itu United Nations Temporary Executive Administration (UNTEA) menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia dengan catatan pada tahun 1969 harus diadakan pungutan suara penentuan pendapat rakyat (Pepera).

Sejak saat itu pula, kelompok militan yang dikenal Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) berupaya memerdekakan diri dan ingin memisahkan diri dari NKRI.

(Baca juga: Legenda Kerajaan Perempuan dan Kisah Survival 2 Jenderal Kopassus di Belantara Papua)

Namun ada kisah menarik, saat pemimpin perlawanan Papua yang paling legendaris bernama Mayor Lodewijk Mandatjan bersama Kapten Barent Mandatian mengajak 14.000 masyarakat suku Arfak dengan bersenjata 1.000 senapan tua eks Sekutu masuk ke hutan dan melawan negara, pada Juli 1965.

Dilansir dari buku Kopassus untuk Indonesia jilid II, Selasa (16/11/2021), asrama Yonif 641/ Cendrawasih I di Arfai, Manokwari juga diserang kelompok Ferry Awom, pada 28 Juli 1965.

Kejadian ini menimbulkan keresahan banyak pihak, oleh karena itu dilancarkan Operasi Sadar oleh Pangdam XVII/Cendrawasih, Brigjen TNI Sarwo Edhie Wibowo. Di dalam Operasi Sadar, terdapat tim khusus yang anggotanya adalah Mayor Heru Sisnodo (RPKAD) dan Sersan Mayor Udara John Saleky (Kopasgat) untuk masuk ke hutan membujuk Mandatjan menghentikan pemberontakan. Kedua anggota ini sengaja dipilih, karena kedekatan mereka sebagai "anak angkat" dari Mayor Lodewijk Mandatjan.

(Baca juga: Menakar Peluang Pangkostrad Dudung Jadi KSAD Gantikan Andika Perkasa)

Dalam melaksanakan Operasi Sadar, Pangdam lebih banyak memilih mengulurkan tangan dengan cara damai kepada Mandatjan. Puluhan ribu pamflet seruan disebar agar OPM kembali ke NKRI Kepada Lettu Sintong Panjaitan sebagai pimpinan Prayudha wilayah Manokwari, Mayor Heru-yang juga merupakan anggota tim Sandi Yudha-meminta agar selama opera jika ada pertempuran agar menjaga jarak saat ia sedang bergerak mendekati Mandatjan.

Tanpa membawa senjata dan hanya berjalan kaki, Mayor Heru dan Sersan Saleky masuk ke hutan untuk menemui Mandatjan. Dalam pembicaraannya dengan kedua anak angkatnya, Mandatjan sempat menanyakan siapa pasukan Kopassus yang menggempur anggotanya. Mayor Heru menjelaskan bahwa tim Lettu Sintong Panjaitan adalah anak buahnya yang akan menurut apabila diperintahkan. Lodewijk Mandatjan dan anak buahnya pun berhasil dibujuk dan mau turun dar hutan.

Tim kopassus juga mengawal Mandatjan dan keluarganya pulang ke Manokwari, Keselamatan Mandatjat dan keluarganya juga dijamin setelah menghentikan kegiatannya, Menurut Letjen TNI Sintong Panjaitan, ketika berakhir tugas itu, Mayor Heru sempat memanggilnya dan berpesan, "Hei Sintong, ini bapak saya. Kau jaga dia yah".

Nama Lodewijk Mandatjan kini mungkin lebih banyak diketahui orang sebagai nama Rumah Sakit Bhayangkara Polda Papua Barat. Dia mendapat gelar titular Mayor dikarenakan jasanya pada waktu perjuangan Trikora.

Dia juga yang pertama kali mengibarkan sang Merah Putih di daerah Manokwari. Seiring dengan perjalanan waktu, ia menyaksikan kekecewaan demi kekecewaan yang kemudian membuatnya berada di pihak oposisi. Setelah menyadari kekeliruannya, la kemudian ikut membantu negara mengamankan Pepera dan negara tidak melupakan jasa seorang Lodewijk Mandatjan.

Kendati demikian, pendekatan yang dilakukan TNI tidak seluruhnya mulus, sampai batas waktu yang diberikan pada suku Arfak yaitu pada 30 November 1968, ada 1869 orang bersedia kembali ke NERI, tetapi gerombolan di bawah Ferry Awom menolak. Untuk itu pemerintah mengambil tindakan tegas dengan jalan operasi militer.

Operasi Wibawa pun kemudian digelar pada 22 Februari 1969. Menjelang Pepera berbagai gangguan terjadi. Pos Erambo di Merauke diserang OPM dan memakan korban jiwa. Serangan balik kemudian dilancarkan sampai ke perbatasan Papua Nugini.

Tiga bulan setelah peristiwa di Merauke, menyusul insiden di Jayapura di mana tiga orang prajurit dikeroyok masyarakat yang terkena hasutan OPM. Setelah itu terjadi kerusuhan di Enarotali, Kabupaten Paniai, di mana pasukan RPKAD turun menyelesaikannya melalui operasi lintas udara. Jalan menuju Pepera memang tidak mulus, tetapi Irian Barat memilih tetap bergabung dengan NKRI.

(Fahmi Firdaus )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya