SOSOK LB Moerdani merupakan prajurit pemberani. Keberaniannya sebagai prajurit sejati jauh melebihi seorang tentara biasa. Medan tempurnya bukan hanya di palagan peperangan peluru dan senjata.
Ia kerap disapa juga masuk dalam pusaran kekuasaan negara setelah kenyang bertugas sebagai prajurit lapangan selama puluhan tahun. Benny masuk pusaran kekuasaan era Presiden Soeharto pada masa Orde Baru.
Baca Juga: Kisah LB Moerdani dan Anak Buah Tenggak 10 Macam Vitamin Sebelum Bertugas
Saat itu, Benny Moerdani mendapakan tugas khusus untuk memimpin tim pendahuluan sebelum Presiden Soeharto melawat ke Belanda pada 1970 karena ada dugaan ancaman demonstrasi besar-besaran oleh kelompok kiri baru dan pendukung Republik Maluku Selatan (RMS) dikutip dari buku Benny Moerdani yang Belum Terungkap.
Untuk mempelajari keadaan, Benny mengamati rute Soeharto untuk menuju Istana Huis Ten Bosch dengan mengajak Haryoseputro.
Setelah itu, Benny meninjau lampu merah yang berada dekat istana. Titik itu dianggap tidak aman. Ia bertanya apa bisa semua jendela di jalan ke arah istana dijaga dan lampu merah dibebaskan dari demonstasi. Aparat Belanda menjawab “tidak” dengan alasan negara itu demokratis.
Jawaban itu lantas membuat Benny marah dan ia pun menggebrak meja sambil berkata “Kami hanya punya satu Soeharto! Apakah Anda bisa menjamin keselamatannya?”.
Baca Juga: Ketika Soeharto Perintahkan LB Moerdani Benahi Intelijen Indonesia
Beruntung bagi Benny, di luar dugaan keesokan harinya pada tanggal 31 Agustus 1970 terjadinya insiden 33 anggota pro RMS menyerbu rumah Duta Besar RI untuk Belanda. Hal ini membuat sikap tim pengaman Belanda berubah 180 derajat.
Pemerintah Belanda tak lagi menganggap remeh keadaan setelah kejadian tersebut. Saat tiba di Belanda pada 3 September 1970, Soeharto tidak dibawa ke istana melalui jalan darat melainkan dengan helikopter.
Hal yang hampir serupa juga terjadi pada akhir November 1972 di Roma, Italia. Saat iring-iringan Presiden Soeharto dan Presiden Italia Giovanni Leone tiba di Gerbang Kota Roma. Tiba-tiba sebuah bola kertas berukuran besar digelindingkan oleh para demonstran.
“Entah datang dari mana Pak Benny sudah berdiri di sisi pintu mobiL Pak Harto,” pungkas Haryoseputro.
(Arief Setyadi )