JAKARTA - Dampak dileburnya Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), termasuk berkurangnya kontribusi peneliti dalam mendeteksi Covid-19 dan melakukan pengurutan genome (whole genome sequencing), di tengah potensi naiknya kasus akibat Covid-19 varian baru Omicron.
Peleburan itu berimbas pada pemberhentian puluhan peneliti yang berstatus sebagai tenaga honorer.
Mantan Kepala LBM Eijkman, Amin Soebandrio, mengatakan lembaga yang telah beroperasi selama 33 tahun tersebut tidak lagi bisa berkontribusi karena sebagian alat deteksi telah dialihkan ke laboratorium milik BRIN di Cibinong, Jawa Barat.
"Kalau kemudian kebutuhannya meningkat seperti bulan-bulan sebelumnya (upaya deteksi-red) akan terganggu karena Eijkman adalah salah satu kontributor terbesar, sebelumnya malah paling besar," kata Amin, melansir BBC News Indonesia, Kamis (5/1/2022).
Mantan Kepala LBM Eijkman, Amin Soebandrio, menuturkan butuh waktu agar Eijkman, dengan sistem kelembagaan yang baru, bisa kembali berkontribusi melakukan genome sequencing dan deteksi Covid-19.
Padahal kontribusi dari Eijkman saat ini sangat dibutuhkan untuk mendeteksi varian Omicron yang telah menyebar secara lokal di Indonesia.
Eijkman pernah melakukan hampir seribu genome sequencing dalam sehari dan merupakan salah satu kontributor terbesar di Indonesia dalam hal itu.
"Dengan situasi seperti ini kami harus menghentikan dan sekarang tidak ada lagi kontribusi Eijkman padahal kita ketahui dengan adanya Omicron ini kebutuhan akan pemeriksaan WGS ini semakin meningkat," kata dia.
Baca Juga : 95% Kasus Omicron di Jakarta Adalah Pelaku Perjalanan Luar Negeri
Selain itu, perubahan pada sistem kelembagaan Eijkman jdikhawatirkan menghambat pengembangan Vaksin Merah Putih. Vaksin tersebut target awalnya akan mulai diproduksi pada pertengahan 2022 ini.
Peleburan Eijkman ke BRIN juga telah menyebabkan 113 tenaga honorer, termasuk 71 peneliti diberhentikan.
Ahli Biologi Molekuler Ahmad Rusdan Utomo menuturkan situasi itu akan membuat tim yang telah terbentuk untuk melaksanakan tugas-tugas riset dan deteksi Covid-19 menjadi "terdisrupsi".
Padahal menurut dia, Eijkman telah memberikan kontribusi yang sangat nyata dalam penanganan pandemi dan "meringankan banyak beban" pemerintah sejak awal pandemi.
Namun, Kepala BRIN Laksana Tri Handoko membantah perubahan sistem itu berdampak pada kinerja Eijkman dalam riset-riset terkait Covid-19, termasuk pengembangan vaksin Merah Putih.
Perubahan ini, kata Handoko, justru akan 'memperkuat' Eijkman sebagai sebuah lembaga penelitian dengan anggaran riset yang lebih besar, peneliti yang memenuhi 'standar kualifikasi', dan infrastruktur yang lebih lengkap.
(Erha Aprili Ramadhoni)