BEIJING – China memiliki rencana untuk menggunakan kereta berkecepatan tinggi untuk mengangkut rudal nuklir, menempatkan 1.000 hulu ledak senjata pemusnah massal itu hingga dapat menjangkau kota-kota Amerika Serikat (AS) dan Eropa, demikian kata seorang pakar.
Di bawah rencana yang sedang dikembangkan, kereta 'Kiamat' tersebut akan menggunakan jalur kecepatan tinggi sepanjang 23.000 mil di China untuk meluncurkan nuklir di seluruh negeri dengan kecepatan lebih dari 350 km per jam (Km/j) untuk dikerahkan jika terjadi perang.
BACA JUGA: AS Peringatkan Terobosan Nuklir China, Miliki Implikasi Serius Bagi Keamanan Global
Mengembangkan cara untuk menyembunyikan rudal, baik nuklir maupun konvensional, telah lama menjadi ambisi China.
Menggunakan kereta nuklir berkecepatan tinggi cocok dengan strategi yang mencakup penggunaan rudal yang disembunyikan di dalam kontainer dan membuka pintu untuk rudal nuklir disamarkan sebagai kereta penumpang, demikian diwartakan The Sun.
Rencana penggunaan kereta berkecepatan tinggi muncul dari penelitian yang didanai pemerintah China.
Menurut Rick Fisher, seorang ahli militer China, ini akan menimbulkan ancaman signifikan bagi Barat.
“Tidak terbayangkan bahwa sistem kereta api China dapat mendukung 1.000 hulu ledak tambahan yang mampu mencapai target Eropa dan Amerika,” katanya kepada The Sun.
“Membangun dan menyebarkan 100 ICBM yang diluncurkan dengan kereta tidak akan membebani anggaran militer China,” lanjutnya, merujuk pada rudal balistik antarbenua.
BACA JUGA: Pentagon Peringatkan China Tingkatkan Persenjataan, Miliki 1.000 Hulu Ledak Nuklir
Memimpin tim peneliti Cina adalah Yin Zihong, profesor teknik sipil di Universitas Jiaotong Barat Daya di Chengdu. Penemuan tim itu baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal ilmiah peer review universitas.
“Dibandingkan dengan kereta api jarak jauh, kereta berkecepatan tinggi beroperasi lebih cepat dan lebih lancar,” kata para peneliti.
“Ini berarti bahwa di rel berkecepatan tinggi, mobilitas, keamanan, dan penyembunyian kendaraan militer akan lebih besar.”
Tim sedang membangun pekerjaan ekstensif yang telah dilakukan untuk menggunakan kereta api sebagai landasan peluncuran senjata nuklir.
Uni Soviet mengembangkan rudal RT-23 yang diluncurkan dari kereta api dan dikerahkan dari 1987 hingga 2005. Sementara Korea Utara melakukan uji coba rudal yang diluncurkan dengan kereta api pada 2021.
Ketertarikan China pada konsep tersebut dimulai pada awal 1990-an ketika memperoleh teknologi motor roket padat yang dikembangkan oleh Uni Soviet untuk digunakan dalam rudal yang diluncurkan kapal selam.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rusia, rudal yang diluncurkan dari kapal selam adalah desain terbaik untuk digunakan di kereta api.
Pada 2005, para peneliti dari Institut Teknologi Peluncuran Luar Angkasa Beijing mengajukan gagasan meluncurkan rudal kapal selam dari kereta api.
Pengembangan rel kecepatan tinggi China yang meluncurkan ICBM akan menambah lapisan baru pada ancaman nuklirnya yang sudah dipercepat terhadap Amerika dan Eropa
China dilaporkan menguji rel yang meluncurkan rudal DF-41 pada 2016 dan 2017. Rudal DF-41 adalah ICBM seberat 80 ton yang membawa beberapa hulu ledak nuklir dengan jangkauan hingga hampir 15.000 km.
Kemudian pada 2019, model mobil rel China untuk meluncurkan ICBM terungkap di halaman web militer negara itu.
“Pengembangan ICBM konvensional atau rel kecepatan tinggi yang diluncurkan China akan menambah lapisan baru pada ancaman nuklirnya yang sudah dipercepat terhadap Amerika dan Eropa,” kata Fisher.
(Rahman Asmardika)