Setiap hari dihidangkan makanan yang sedap dan enak. Konon pesta srada ini dilakukan hingga tujuh hari tujuh malam, seluruh orang membanjiri Kota Majapahit. Mereka berduyun-duyun untuk menyaksikan apa yang terjadi selama pesta srada yang paling besar sampai pada saat itu.
Setiap hari selalu ada pertunjukan, acaranya pun berganti - ganti, nyanyian, tari-tarian, tinju, gulat, perang tanding, wayang, topeng, dan sebagainya memeriahkan acara peringatan wafatnya Gayatri. Pada hari ketujuh, Hayam Wuruk menari di ruang tertutup, yang boleh hadir hanya para putri dan istri pejabat Majapahit.
Di hari kedelapan peringatan wafatnya Gayatri, pagi-pagi pendeta Buddha berkumpul dan bersama mereka memberi hormat. Lalu menyanyikan lagu pujaaan yang diciptakan khusus untuk Rajapatni, yang telah pulang ke Budhaloka. Setelah itu arca bunga diturunkan dari singgasana dengan upacara.
Segala sajian habis, dibagi ke semua yang hadir, pesta srada pun telah selesai. Menyusul kemudian adalah perbaikan makam Rajapatni di Kamal Pendak.
(Angkasa Yudhistira)