JAKARTA – Sebuah perkawinan akan menghasilkan keturunan yang mempunyai bentuk fisik dan sifat yang mirip dengan orangtua mereka. Biasanya, untuk lebih mempermudah kita untuk mengetahui susunan nama dari anggota keluarga dari beberapa generasi baik dari keluarga inti atau keluarga besar, digunakanlah bagan silsilah keluarga.
Silsilah keluarga berisi asal usul suatu keluarga yang menggambarkan hubungan keluarga sampai beberapa generasi (nenek moyang).
Mengetahui silsilah keluarga sangatlah penting untuk diketahui agar kita dapat mengenal dari keluarga mana kita berasal. Di Indonesia sendiri mengetahui silsilah keluarga termasuk hal wajib. Karena setelah mengetahui silsilah tersebut, kita akan lebih hati-hati menjaga nilai-nilai dan tradisi dalam keluarga.
Hal ini juga bisa menghindari resiko pernikahan sedarah.
Penerapan silsilah ini juga digunakan dalam keluarga kerajaan. Sama seperti yang sudah dijelaskan di atas, silsilah tersebut berfungsi sebagai informasi dari keluarga mana seseorang berasal, terlebih jika orang tersebut adalah seorang raja atau orang yang disegani di masyarakat.
Dikutip dari laman Okezone, biasanya penulisan silsilah dimulai pada posisi leluhur ke-3 yaitu moyang-buyut-cilawangi, selanjutnya leluhur ke-2 yaitu kakek-nenek, leluhur pertama yaitu orang tua (ayah dan ibu)-paman-bibi mertua (ayah dan ibu), selanjutnya generasi ego yaitu saudara (kakak dan adik)-sepupu-ipar-suami-istri-besan, lalu keturunan pertama anak (laki-laki dan perempuan), menantu-keponakan, dan yang terakhir keturunan ke-2 cucu/buyut-cicit-piut/canggah-anggas, dan seterusnya.
Sebagai contoh, bisa dilihat dari silsilah keluarga kerajaan demak.
Silsilah keluarga inti yang dimiliki Kerajaan Demak dimulai oleh Prabu Brawijaya V dan Siu Ban Ci, yang merupakan wanita Muslim Cina. Menjadikan semua keturunan Brawijaya V dan Siu Ci memiliki darah Tionghoa.
Pasangan ini memiliki anak bernama Raden Patah yang menikah dengan Ratu Asyikah. Mereka memiliki keturunan yaitu Pati Unus, Raden Kikin, dan Sultan Trenggono, yang kemudian menjadi raja dari Kerajaan Demak.
Sedangkan Pati Unus menjadi raja kedua, Sultan Trenggono menjadi raja ketiga, dan Sunan Prawoto seorang anak dari Sultan Trenggono menjadi raja keempat, dan terakhir Arya Penangsang anak dari Raden Kikin menjadi raja Kelima.
(Khafid Mardiyansyah)