HUT ke-77 TNI, Ini 4 Jenderal yang Jadi Tokoh Penting Penjaga Kedaulatan Bangsa

Tim Litbang MPI, Jurnalis
Rabu 05 Oktober 2022 06:00 WIB
Ilustrasi/ Foto: Perpusnas
Share :

3. Jenderal A.H Nasution

Abdul Haris Nasution lahir di Tapanuli Selatan pada 3 Desember 1918. Ia mulai tertarik pada bidang militer dan mengikuti pendidikan Corps Opleiding Reserve Officieren (CORO) atau KNIL di Bandung pada 1940-1942.

Di tubuh TNI AD, Nasution terkenal sebagai seorang pemikir dan konseptor ulung. Menurut Pusat Sejarah TNI, Nasution memiliki beberapa gagasan dalam rangka pembangunan TNI. Diantaranya adalah konseptor perang gerilya, konseptor operasi penumpasan PKI Madiun 1948, memimpin MBKD (Markas Besar Komando Djawa) pada masa agresi militer II Belanda, pemerkasa politik “Kembali ke UUD 1945”, dan perumus Konsepsi Jalan Tengah.

Nasution juga berperan dalam pembebasan Irian Barat dengan menasionalisasikan perusahaan-perusahaan Belanda sebagai langkah awalnya. Karena kemampuannya yang luar biasa itulah, Nasution mendapat penghargaan dari beberapa universitas. Gelar Doktor diterimanya dari Universitas Padjadajaran dan Universitas Islam Sumatera Utara. Sementara itu, gelar Doktor Causa dalam bidang Politik Ketatanegaraan didapatnya dari Filipina.

Dalam peristiwa pemberontakan G30S/PKI, Nasution berhasil lolos dari kejaran Tjakrabirawa. Ia adalah target yang paling diincar, sebab paling lantang menolak masuknya paham komunisme di tubuh TNI AD dan menolak para petani dipersenjatai.

Penganugerahan pangkat Jenderal Besar TNI diterimanya pada 30 September 1997 dan tertuang dalam Keppres No.46/ABRI/1997. Ia wafat 3 tahun setelahnya, yakni pada 6 September 2000 karena sakit.

 BACA JUGA:Ini Imbauan Tokoh Adat Sekanto Papua Terkait Lukas Enembe

4. Brigjen Slamet Riyadi

Memiliki nama lengkap Ignatius Slamet Rijadi, ia adalah tokoh penting TNI yang lahir pada 26 Juli 1926 di Surakarta. Slamet merupakan orang yang pertama kali mencetuskan ide dibentuknya Kopassus, pasukan elit kepunyaan TNI AD.

Slamet menginginkan adanya satuan yang bisa bergerak tepat dan cepat denga peralatan mumpuni di lapangan. Sehingga, bisa lebih siap menghadapi musuh di medan pertempuran.

Akan tetapi, gagasan dan keinginan itu baru bisa diimplementasikan oleh Alex Kawilarang pada 16 April 1952. Sebab, Slamet gugur saat pertempuran RMS di Ambon pada 4 November 1950. Setelah wafat, ia dikebumikan di kebun kelapa di sekitaran wilayah Ambon. Jasadnya baru dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan, Ambon setelah kondisi di tempat itu kondusif.

(Nanda Aria)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya