MALANG - Satria Bagus, tak menyangka ia menjadi korban luka di Tragedi Kanjuruhan Malang. Saat itu ia berada di tribun 12 bersama teman yang baru dikenalnya dari Jember. Ketika kerusuhan meletus ia sama sekali tidak masuk ke lapangan, bahkan berniat menyelamatkan diri.
Namun Bagus bersaksi saat itu tembakan gas air mata langsung diarahkan ke tribun, bahkan tak jauh dari kakinya. Kepanikan pun melanda penonton di tribun, ia yang berada di tribun lari ke bagian atas. Di sanalah ia menjumpai ibu-ibu dengan sejumlah anak kecil berteriak - teriak minta tolong. Nalurinya lantas menolong ibu - ibu itu yang teriak sambil menangis.
"Ibu-ibu itu di tribun atas, sesama suporter di tribun 12 di belakang, paling atas tribun. Aku sempat nolongin dia," kata Bagus ditemui di rumahnya, Selasa (11/10/2022) sore.
BACA JUGA:Nasib Korban Tragedi Kanjuruhan, Kaki Patah dan Belum Dapat Bantuan
Namun kejadian begitu cepat kata Bagus, tembakan gas air mata ke tribun membuatnya berlarian menyelamatkan diri. Ia bergegas berlari ke kiri, ke kanan, hingga akhirnya terjebak di pintu 12 dan harus berdesak-desakan dengan ribuan penonton lainnya.
Ia bersaksi saat mencari jalan keluar itu, pintu 12 dan 13 begitu banyak orang bertumpukan dan berdesak-desakan. Padahal lorong menuju keluarnya pun cukup sempit dan curam. Pria berusia 20 tahun ini juga melihat bagaimana pintu 13 memang tertutup sesaat saat terjadi kerusuhan.
BACA JUGA:TGIPF Serahkan Hasil Investigasi Tragedi Kanjuruhan ke Jokowi Jumat Pekan Ini
"(Kalau pintu 12) Nggak sempat lihat pintu, keburu jatuh. Di pintu 13 ditutup, ada videonya. Di situ (di pintu 12) saya terjepit di pagar, tidak bisa gerak, kaki di atas, kepala di bawah, jadi malek (terbalik)," paparnya.
Dirinya mengaku bersyukur masih bisa selamat kendati mengalami patah tulang di kaki kirinya dan retak di kaki kanannya. Mengingat satu teman yang ia kenal temui di stadion meninggal dunia.
"Berangkat lima orang, satu ketemu di sana (di Stadion Kanjuruhan Malang), meninggal satu orang, dia cewek. Alhamdulillah bisa selamat," ujarnya.
Namun kini ia mengalami trauma psikis yang besar. Pria yang bekerja di sebuah kafe siap saji ini menyatakan selalu terbayang-bayang saat malam hari. Bahkan dirinya susah tidur saat waktu menunjukkan pukul 23.00 sampai 03.00 WIB dini hari, atau detik-detik waktu peristiwa Tragedi Kanjuruhan dialaminya.
"Nggak bisa tidur, kedengaran orang-orang nangis, kepikiran terus kejadian itu. Kayak dengar orang nangis sendiri itu jam 11 malam sampai 3 pagi. Sampai sekarang masih kepikiran, kayak kebayang-bayang waktu kejadian itu," jelasnya.
Meski demikian, Bagus menjelaskan tak jera bila harus kembali melihat pertandingan Arema secara langsung ke stadion. Apalagi ia merupakan Aremania yang selalu datang ke stadion di setiap pertandingan.
"Masih pengen nonton, suka saja cinta, apalagi Arema. Semoga nggak ada kejadian lagi kayak gini, kasihan banyak korbannya," pungkasnya.
(Awaludin)