MALANG - Suasana duka terasa di rumah korban tragedi Kanjuruhan Malang. Andi Setiawan menjadi korban jiwa 133 yang menghembuskan napas terakhirnya usai menjalani perawatan di rumah sakit selama 17 hari.
Pantauan Okezone di rumah duka di Jalan Kolonel Sugiono Gang III C RT 14 RW 4 Kelurahan Mergosono, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, didatangi sejumlah keluarga, kerabat, tetangga, Aremania, serta pejabat Pemkot Malang.
(Baca juga: Breaking News! Korban Tragedi Kanjuruhan Malang Bertambah Jadi 133 Orang Meninggal)
Jenazah pria berusia 33 tahun ini langsung disemayamkan di rumah duka, sebelum akhirnya dibawa ke masjid setempat untuk disalatkan. Tampak sejumlah keluarga, kerabat, mengiringi sholat jenazah, Wali Kota Malang Sutiaji pun terlihat di antara para pelayat yang mengantarkan kepergian korban tragedi Kanjuruhan ini.
Paman korban, Sukemianto (64) mengatakan, almarhum Andi ini hanya tinggal dengan kedua orang tuanya di rumah Jalan jalan Kolonel Sugiono Gang IIIC, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Ada dua anak yang ditinggalkan oleh korban. Kedua anaknya tersebut kini tinggal dengan mantan istrinya.
"Punya anak dua, tapi sudah pisah sama istri. Di sini tinggal sama orangtuanya," ujarnya kepada Okezone Selasa (18/10/2022).
Sukemianto menceritakan, jika sehari hari korban membantu orang tuanya untuk menimbang rongsokan yang tak jauh dari kediamannya, yakni wilayah Buring, Kedungkandang, Kota Malang.
"Kesehariannya dia membantu orang tuanya nimbang rongsokan dekat sini mas. Dia rajin," pungkasnya.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, Andi Setiawan (33) dinyatakan meninggal dunia di RSSA Malang pada pukul 13.20 WIB.
Tim dokter anestesi dan ICU RSSA Malang dr. Eko Nofiyanto menyatakan, korban diketahui menderita multi trauma, termasuk luka patah tulang di tulang iganya. Kemudian patah tulang di tempat lain, karena trauma yang dialaminya.
"(Tindakan), yang pertama memberikan alat bantu napas ventilator, yang itu memang itu menjamin ketersediaan oksigen pada pasien tersebut, karena akibat dari cedera tulang parunya. Kemudian tindakan diagnostik lainnya terutama memastikan kondisi penyebab dan sebagainya," tuturnya.
Eko menambahkan, saat menjalani perawatan di RSSA Malang kondisinya tidak stabil dan masih belum memungkinkan dilakukan operasi di beberapa bagian tubuhnya. "Tapi penanganan traumanya kita lakukan penanganan seperti patah tulang paha diberikan tindakan agar tidak parah," tutupnya.
(Fahmi Firdaus )