KOPENHAGEN - Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen, menyerahkan pengunduran diri pada Rabu, (2/11/2022), sehari setelah partai Sosial Demokratnya meraih kemenangan tipis dalam pemilihan umum. Frederiksen mengatakan bahwa dia akan mulai menjajaki koalisi antara kelompok tengah politik.
Frederiksen telah mengampanyekan perlunya koalisi luas di tengah perpecahan tradisional antara kubu sayap kiri dan kanan. Dia menekankan perlunya persatuan di saat situasi dunia internasional yang tak pasti.
BACA JUGA: Siswa Acungkan Jari Tengah di Belakang Perdana Menteri, Fotonya Jadi Viral
Pembicaraan diperkirakan akan berlangsung lama karena baik teman maupun musuh Frederiksen telah menyatakan skeptisisme tentang koalisi semacam itu, membuat hasilnya tidak pasti.
"Ini akan memakan waktu, dan kompromi akan diperlukan," kata Frederiksen dalam debat dengan para pemimpin partai lainnya pada Rabu. Dia menambahkan bahwa membentuk pemerintahan baru "akan sangat, sangat merepotkan".
"Saya sepenuh hati percaya bahwa dengan krisis iklim, inflasi, perang di Eropa... dan potensi resesi dalam ekonomi Eropa, kita harus mengesampingkan kata-kata kasar dari kampanye pemilihan dan datang ke meja perundingan," katanya sebagaimana dilansir Reuters.
BACA JUGA: Trump Sebut Penolakan PM Denmark Soal Penjualan Greenland "Tak Pantas dan Menghina"
Blok sayap kiri, yang mencakup partai Sosial Demokrat, memenangkan 90 kursi, mayoritas paling tipis di parlemen dengan 179 kursi, sementara blok sayap kanan memenangkan 73 kursi dan partai tengah yang baru dibentuk mendapatkan 16 kursi.
Sosial Demokrat mendapatkan dukungan terkuat mereka dalam dua dekade meskipun ada kritik terhadap Frederiksen karena memiliki kekuasaan terpusat di sekitar kantornya dan keputusan terkait pemusnahan hewan selama pandemi.
Profesor ilmu politik di Universitas Aarhus, Rune Stubager, mengatakan akan sulit menemukan titik temu dengan partai-partai kanan.
Frederiksen dapat memulai negosiasi dengan mantan perdana menteri Lars Lokke Rasmussen dan partai sentris non-blok barunya, Moderat, yang juga telah berkampanye untuk koalisi partai-partai arus utama.
“Saya tidak berpikir Mette Frederiksen memiliki kepentingan nyata dalam pemerintahan yang luas,” kata Joachim B. Olsen, mantan anggota parlemen dan sekarang komentator politik untuk surat kabar BT.
Dia memperingatkan bahwa membentuk koalisi partai-partai arus utama tradisional bisa menjadi bumerang, karena pada akhirnya bisa memperkuat partai-partai yang lebih radikal seperti yang terlihat di negara-negara Eropa lainnya, termasuk Prancis.
“Kita mungkin menghadapi masa jabatan yang agak kacau, dan mungkin juga singkat,” katanya.
(Rahman Asmardika)