Beri Peringatan Keras, WMO: Permukaan Air Laut Naik Lebih Cepat 2 Kali Lipat

Susi Susanti, Jurnalis
Senin 07 November 2022 13:24 WIB
Kepala WMO Petteri Taalas (Foto: Reuters)
Share :

JENEWA - Badan Urusan Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan cuaca yang menghangat di Bumi dan naiknya permukaan air laut telah semakin memburuk, dan terjadi lebih cepat dari sebelumnya. Hal ini disampaikan dalam catatan suram badan itu menjelang KTT Iklim di Mesir yang dimulai pada Minggu (6/11/2022).

Dalam laporan iklim tahunannya, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu mengatakan kenaikan permukaan laut dalam dekade terakhir ini dua kali lipat dari tahun 1990an, dan sejak Januari 2020 telah melonjak pada tingkat yang lebih tinggi lagi.

 Baca juga: Dibalut Pesan 'Planet Bumi Kirim Sinyal Marabahaya', KTT Perubahan Iklim Resmi Dibuka

Sejak dekade ini dimulai, permukaan laut naik lima milimeter per tahun, dibandingkan dengan 2,1 milimeter pada 1990-an.

 Baca juga: Eropa Menghangat Lebih Cepat Ketimbang Wilayah Mana Pun dalam 30 Tahun Terakhir Akibat Krisis Iklim

“Sayangnya kita telah kalah dalam permainan gletser yang mencair ini, yang berarti kenaikan permukaan laut akan terus berlanjut selama ratusan atau bahkan ribuan tahun mendatang,” ujar Kepala WMO Petteri Taalas, dikutip VOA.

“Dalam beberapa studi terbaru NASA tampak ada risiko kenaikan permukaan laut beberapa meter pada tahun 2300. Ini adalah salah satu berita buruk yang harus saya sampaikan,” lanjutnya.

Dia menjelaskan, satu-satunya alasan mengapa dunia tidak memecahkan rekor suhu tahunan dalam beberapa tahun terakhir ini adalah fenomena cuaca La Nina tiga tahun yang langka.

Data tentang permukaan laut dan suhu rata-rata tidak ada apa-apanya dibanding dengan bagaimana perubahan iklim yang telah menyelimuti sebagian warga dunia dalam cuaca ekstrem.

Laporan itu menyoroti banjir luar biasa saat musim panas di Pakistan yang menewaskan lebih dari 1.700 orang dan memaksa 7,9 juta lainnya mengungsi. Termasuk kekeringan selama empat tahun yang melumpuhkan negara-negara di Afrika Timur yang membuat lebih dari 18 juta orang kelaparan. Selain itu, keringnya Sungai Yangtze ke tingkat terendah pada Agustus lalu, dan rekor gelombang panas yang membakar wilayah di Eropa dan China adalah catatan buruk lainnya.

Laporan tahunan itu juga menyebutkan tingkat karbondioksida, metani, dinitrogen oksida yang memerangkap panas semuanya telah mencapai rekor tertinggi, di mana metana meningkat pada kecepatan yang memecahkan rekor. Hal ini berarti lebih dari sekadar pemanasan suhu di darat.

Es, baik lapisan es di Greenland, dan gletser dunia, menyusut drastis. Selama 26 tahun berturut-turut, Greenland kehilangan es ketika semua jenis es dihitung. Volume salju gletser di Swiss turun lebih dari sepertiga dari 2001 – 2022.

(Susi Susanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya