"Kota Atlantis" yang Hilang di Mediterania: Berumur Pendek tapi Pernah Diperebutkan 3 Negara

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Kamis 24 November 2022 05:07 WIB
Share :

"Legenda membantu orang untuk hidup dengan ketakutan leluhur ini, dan membenarkan keberadaan fenomena tersebut," jelas penulis Marinella Fiume.

Buku karyanya yang bertajuk Sicilia Esoterica meneliti cerita rakyat dan tradisi Sisilia yang kaya.

Menurut salah satu legenda, pernah ada seorang nelayan muda, Cola, yang terkenal karena kemampuannya bertahan di bawah air untuk waktu yang lama, membuatnya mendapat julukan Colapesce - Cola si ikan.

Mendengar bakatnya, raja menantang Colapesce untuk mengambil banyak benda dari dasar laut.

Pada salah satu misi bawah lautnya, sang nelayan mendapati salah satu tiang, yang diduga menopang pulau itu, telah rusak akibat erupsi Gunung Etna.

"Dalam versi legenda tertentu, Colapesce muncul ke permukaan setiap seratus tahun untuk melihat daratan lagi - dan gerakan inilah yang memicu gempa bumi dan getaran," kata Fiume.

Kini, kita tahu bahwa Sisilia dan perairannya berada di perbatasan antara lempeng tektonik Eurasia dan Afrika.

Pergerakan lempeng-lempeng tersebut dapat menyebabkan ketegangan menumpuk di kerak bumi, yang mengakibatkan gempa bumi.

Pergerakan yang sedang berlangsung menekan lempeng Afrika di bawah Eurasia, sementara itu, mendorongnya ke dalam mantel.

Hal ini menyebabkan penumpukan batuan yang mencair, yang dapat menembus titik lemah di permukaan bumi, yang menyebabkan letusan gunung berapi.

Gunung Etna dan Gunung Vesuvius adalah contoh yang paling nyata, tetapi letusan juga dapat terjadi di bawah air, karena magma muncul melalui kerak bumi yang tipis di bawah dasar laut.

Serangkaian kerucut vulkanik bawah laut dapat ditemukan sekitar 40 hingga 64 km di lepas pantai barat daya Sisilia.

Kerucut-kerucut tersebut "monogenetik", jelas Danilo Cavallaro dari Observatorium Etna di Catania, yang merupakan bagian dari Institut Nasional Geofisika dan Vulkanologi Italia.

Ini berarti bahwa setiap kerucut dihasilkan dari satu letusan.

"Magma muncul melalui kanal - dan setelah letusan, mendingin dan mengkristal, membentuk batuan yang sangat keras," katanya.

Selama letusan lebih lanjut, magma akan mengalir di sekitar ini dan menerobos batuan lunak di sekitarnya, sebagai gantinya, menghasilkan puncak baru.

Italia, sebagai satu negara kesatuan, belum ada kala itu, dan pulau Sisilia adalah bagian dari negara bagian yang mencakup selatan semenanjung.

Ini termasuk Napoli, yang secara historis, juga dikenal sebagai Sisilia, menjadi sebuah negara yang disebut Kerajaan Dua Sisilia, dan diperintah oleh Raja Ferdinand II, yang naik takhta pada November 1830.

Raja baru tidak diterima oleh semua orang, namun, dan pada tahun 1831, beberapa anggota masyarakat sudah berkomplot melawan kedaulatannya, kata Filippo D'Arpa, seorang jurnalis dan penulis buku L'isola che se ne andò (Pulau yang Menghilang).

Penduduk juga menghadapi ancaman epidemi kolera, yang kala itu belum ada obatnya dan tidak kunjung berakhir - situasi yang terasa terlalu akrab bagi pembaca saat ini dengan keberadaan pandemi Covid-19.

Lokasi pulau baru itu, bagaimanapun, sangat menarik bagi Raja Ferdinand II - dan pemerintah negara-negara Eropa lainnya.

"Mari kita ingat bahwa Terusan Suez belum dibuat," kata Nino Blando, seorang sejarawan di Universitas Palermo.

"Dan posisi pulau itu sangat menguntungkan untuk mengontrol jalur perdagangan komersial di sepanjang rute ke Timur Tengah."

Lebih penting lagi, perairan di sekitar pulau itu dipenuhi dengan "privateer" - kapal-kapal yang diizinkan oleh negara untuk menjarah kapal dagang dari negara musuh.

Inggris, Prancis, dan Kerajaan Dua Sisilia semuanya memiliki privateer mereka sendiri, yang sebagian besar terlibat dalam "perang" dengan kapal-kapal dari kekaisaran Ottoman.

Oleh karena itu, sebidang tanah yang baru timbul di lepas pantai Sisilia, dapat membantu pemiliknya menguasai perairan.

Tak heran jika setiap negara mencoba mengklaim pulau itu sebagai milik mereka.

Mengingat lokasi pulau itu, Kerajaan Dua Sisilia mungkin tampak memiliki klaim yang paling meyakinkan.

Pulau itu terletak di antara kota pesisir Sciacca, dan Pantelleria, pulau vulkanik lain yang jauh lebih kuno yang sudah menjadi bagian dari wilayah kerajaan.

Mereka menyebutnya Ferdinandea, untuk menghormati Raja Ferdinando II.

Sayang bagi warga Sisilia, para pelaut Inggris mengaku sebagai orang pertama yang menginjakkan kaki di pulau yang baru terbentuk.

Mereka mengklaim itu terra nullius - bebas untuk diduduki siapa pun - dan memasang bendera mereka.

Mereka menamai pulau itu Graham, untuk menghormati First Lord of the Admiralty, Sir James Graham. (Graham tidak pernah benar-benar mengunjungi pulau itu.)

Prancis pun tak mau menyia-nyiakan peluang.

Negara itu mengirim surveyor untuk memetakan medan, dan menancapkan bendera mereka di titik tertinggi pulau itu. Mereka menyebutnya Julia - seperti bulan kelahiran pulau itu.

Perselisihan berlanjut selama lima bulan, selama waktu itu, pulau setinggi 61 meter itu sudah mulai tenggelam.

"Pada akhir September, tingginya sekitar 18 meter. Satu bulan kemudian, tingginya hanya beberapa kaki. Dan akhirnya, antara Desember 1831 dan Januari 1832 - itu benar-benar menghilang," kata Cavallaro.

Masalahnya, katanya, adalah bahwa dasar pulau itu sebagian besar terbentuk dari batuan scoria - juga dikenal sebagai "sinder".

"Mereka sangat rapuh, dan dapat dengan mudah terkikis oleh gelombang laut," kata Cavallaro.

Cukup mencengangkan, survei Prancis telah memperingatkan kemungkinan ini. Namun demikian, negara itu terus mengeklaim kepemilikan batu yang menghilang dengan cepat.

"Dia mengetahui kisah pulau itu karena pulau itu terkenal di Prancis di kalangan geologis," kata Salvatore Ferlita, seorang profesor sastra Italia di Universitas Kore di Enna.

Penulis legendaris tersebut menyebutkan pulau itu dalam novel bertajuk In Search of Castaways dan pulau itu menjadi pulau harta karun dalam novel dia selanjutnya, Captain Antifer.

Bahkan ada kemungkinan bahwa novel Neverland karya JM Barrie - rumah dari tokoh ciptaannya yang paling terkenal, Peter Pan - telah terinspirasi oleh "pulau yang tidak ada di sana", kata Ferlita.

Antara mitos dan legenda, dan meskipun menghilang, pulau itu tidak pernah meninggalkan imajinasi populer, dan selama dua abad berikutnya, tanda-tanda aktivitas gunung berapi yang jelas telah meningkatkan harapan bahwa pulau itu - atau yang sangat mirip - suatu hari nanti dapat kembali muncul di Selat Sisilia.

Salah satu peristiwa yang paling menonjol terjadi pada tahun 1968, ketika gempa bumi di wilayah itu diikuti oleh mendidihnya air laut di sekitar bekas lokasi pulau itu.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya