BAAS melibatkan seluruh pihak termasuk stakeholder dan masyarakat yang mampu. Terutama dalam memberikan bantuan penanganan stunting, baik materi maupun makan tambahan lainnya.
Program ini merupakan wujud nyata Pemkab Kepulauan Yapen dalam percepatan penurunan stunting di Indonesia, untuk menyelamatkan generasi berikutnya dari stunting. Sehingga ke depannya akan menjadi SDM berkualitas dalam membangun daerah ini ke depan.
Angka prevalensi stunting secara Nasional dari hasil survei status gizi Indonesia pada 2021 adalah 24,4 persen. Untuk Provinsi Papua adalah 29,5 persen. Dan pada 2022 untuk Provinsi Papua naik menjadi 34,6 persen dan bervariasi di 29 Kabupaten Kota termasuk di Yapen.
Khusus Kepulauan Yapen pada 2021 prevalensi stunting berada 33,1 persen. Sementara pada 2022 turun cuma 2 poin, sehingga inovasi BAAS yang digagas kali ini adalah hal yang penting untuk membebaskan anak anak yang berisiko stunting di Kabupaten Kepulauan Yapen.
Ada 12 distrik di Kabupaten Kepulauan Yapen dengan 166 anak yang mengalami stunting. Pada 2023 ini dengan inovasi BAAS dapat teratasi dengan baik dalam waktu 90 hari, untuk menolong bayi atau balita yang mengalami stunting tersebut.
Inovasi BAAS merupakan wujud nyata Pemkab Kabupaten Kepulauan Yapen dalam percepatan penurunan stunting di Indonesia. (Foto: dok Pemkab Kepulauan Yapen)
Pj Bupati Mambay mengatakan bahwa kenaikan stunting secara umum di Papua mengalami kenaikan. Tetapi di Kepulauan Yapen telah berhasil menurunkan angka stunting. Ia mengajak semua pihak dapat bekerja guna meningkatkan komitmen dalam program percepatan penurunan stunting melalui program BAAS.