PRABU Siliwangi konon merupakan raja yang berhasil membawa Kerajaan Pajajaran ke puncak kejayaan. Tapi konon jalan panjang mengawali langkah Prabu Siliwangi yang memerintah di Kerajaan Pajajaran pada tahun 1482 - 1521 Masehi. Prabu Siliwangi bernama lengkap Prabu Dewantaprana Sri Baduga Maharaja.
Sri Baduga Maharaja mengawali kariernya saat memerintah sebagai raja pada 1482 Masehi. Di bawah naungan Sri Baduga Maharaja inilah Kerajaan Pajajaran mengalami puncak perkembangan yang pesat. Pada catatan carita puisi dan Prasasti Batutulis menyatakan, Sri Baduga Maharaja dinobatkan sebanyak dua kali menjadi raja. Namun, Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi bukanlah satu-satunya raja di Kerajaan Pajajaran.
Berdasarkan penuturan seorang arkeolog, ahli bahasa, peneliti sejarah sunda dan Guru Besar Arkeologi Fakultas Sastra UI, Prof. Dr. Ayatrohaedi, dalam bukunya 65=67 Catatan Acak-Acakan dan Cacatan Apa Adanya, yang dilansir dari akun Youtube 'Catatan Masa', pada Senin (6/11/2023).
Dalam bukunya, Prof. Dr. Ayatrohaedi meluruskan bahwa nama kerajaan yang benar adalah Sunda. Sedangkan nama Pajajaran, lengkapnya Pakuan Pajajaran adalah nama ibu kotanya. Pria yang akrab disapa Ayat itu memiliki pendapat yang kontroversial setelah meneliti naskah wangsakerta dari Cirebon sejak akhir tahun 1970an.
Naskah berbahasa Cirebon ini ditulis selama 21 tahun, lebih tepatnya dari tahun 1677 hingga 1698. Naskah tersebut ditulis dengan menggunakan huruf aksara jawa. Adapun ketebalan naskah yang ditulis menggunakan huruf aksara jawa ini, sekitar 200 halaman. Ayat memiliki pandangan tersendiri dalam mengaitkan naskah wangsakerta dengan tokoh Prabu Siliwangi ini.
"Bagiku, naskah ini menjadi pembuka jalan untuk memasuki kegelapan mengenai tokoh tersebut," ungkap Ayat dalam tulisan memoarnya 1965-1967.
Ayat menjelaskan, bahwa hasil dari penelitian naskah tersebut, tidak ditemukan nama Prabu Siliwangi sebagai raja Sunda. Nama itu hanya julukan bagi raja-raja sunda yang menggantikan Prabuwangi yang gugur di bubai. Prabuwangi sendiri, nama sebenarnya adalah Prabu Lingga Buana. Atau dalam cerita Parahyangan dikenal dengan Prabu Maharaja. Julukan Prabuwangi diberikan oleh rakyatnya karena ketegarannya dalam mempertahankan martabat Sunda, ketika kelicikan Maha Patih Gajah Mada bersama pengiring, pengawal dan putrinya yang cantik, Dyah Pitaloka yang gugur melawan Majapahit di perang Bubat pada 1357.
Julukan Prabuwangi itu diberikan sebagai penghormatan atas semua pengabdian dan jasa sang raja, sehingga namanya menjadi wangi atau harum. Lalu raja-raja setelahnya dikenal dengan nama Prabu Siliwangi, yang artinya 'asilih Prabuwang'. Maksudnya menggantikan raja Prabuwangi.
Ada berapa raja sunda yang menggantikan Prabuwangi?
Menurut Ayat, dari naskah wangsakerta dan cerita Parahyangan mecatat jumlah yang sama, yaitu delapan raja. Disinilah ada perbedaan antara Ayat dengan beberapa peneliti sejarah sunda. Mereka hanya mengakui Sri Paduka Maharaja 1482-1521 sebagai raja Siliwangi. Sedangkan Ayat mengakui ada delapan raja yang berjuluk Prabu Siliwangi.
Sama dengan kepercayaan orang jawa, yang menganggap bahwa ada 5 raja yang bernama Raja Brawijaya. Para peneliti sunda menganggap Sri Paduka Maharaja sebagai raja sunda terbesar. Namun, Ayat mempertanyakan kemungkinan Sri Paduka Maharaja sebagai raja sunda terbesar dan masih sempat memperluas wilayahnya. Sementara itu ia harus menghadapi kekuatan kerajaan Islam dari Demak dan Cirebon. Bukankah untuk mempertahankan dirinya saja ia harus minta bantuan kepada Portugis, yang menduduki Malaka sejak 1511.
Dari semua pengganti Prabuwangi, dia yang kedua lamanya memerintah selama 39 tahun. Dari 1482 hingga 1521. Siliwangi yang terlama memerintah adalah Niskala Wastu Kencana. Memerintah selama 104 tahun. Dari 1371 hingga 1475. Selain sebagai raja terbesar, para peneliti sejarah sunda juga menyebut Sri Paduka Maharaja sebagai raja terakhir.
Dari sini Ayat kembali mempertanyakan, bukankah kerajaan sunda baru runtuh pada tahun 1579? 58 tahun setelah Sri Paduka Maharaja meninggal. Sedangkan dalam naskah wangsakerta menyebutkan raja sunda terakhir adalah Surya Kencana. Atau dalam cerita Parahyangan bernama Usia Mulia. Yang memerintah selama 12 tahun. 1567 hingga 1579. Dengan mengikuti naskah wangsakerta, berarti raja terbesar sunda adalah Niskala Wastu Kencana sebagai Prabu Siliwangi I. Sedangkan raja terakhir adalah Surya Kencana yang berjuluk Prabu Siliwangi 8.
(Awaludin)