4. Kerajaan Ada Sejak 1660-an
Dipercaya kerajaan tersebut sudah ada sejak 1660-an dan dikepalai oleh Sambu Ranjana. Semua anggota suku masih menganut kepercayaan animisme. Namun, seiring berjalannya waktu Sambu Ranjana mulai menganut agama Hindu.
Hingga pada akhirnya seluruh anggota Suku Dayak Samihim meninggalkan daerah Saranjana karena adanya perang dengan kekuatan asing. Kendati demikian, wilayah Saranja masih menjadi pusat kekuasaan Suku Dayak Samihim.
5. Tercatat di Peta Kuno
Meski keberadaan dan asal usulnya masih menjadi misteri, namun Kota Saranjana rupanya pernah tercatat dalam peta kuno.
Di antaranya adalah peta Salomon Muller 1854, peta Isaac Dornseiffen 1868, kamus Pieter Johannes Veth 1869, hingga Sketch Map of the Residency Southern and Eastern Division of Borneo 1913.
Lokasi Kota Saranjana pun memiliki beragam versi. Sejarawan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Mansyur dalam jurnalnya yang berjudul Saranjana in Historical Record: The City’s Invisibility in Pulau Laut, South Kalimantan menjelaskan jika Kota Saranjana terletak di 3 lokasi dengan beberapa versi.
Versi pertama konon berada di Kotabaru, Kalimantan Selatan. Versi kedua berada di Teluk Tamiang, Pulau Laut. Dan versi ketiga berada di bukit kecil yang ada di Desa Oka-Oka, Kecamatan Pulau Laut Kelautan, Kalimantan Selatan.
Meski lokasinya berbatasan langsung dengan laut dan cocok dijadikan tempat wisata, namun warga setempat menganggap tempat tersebut angker.
(Arief Setyadi )