Kerajaan Sriwijaya di wilayah Pulau Sumatera juga memiliki kedekatan dengan Sunda. Konon, Sri Jayabupati merupakan raja Sunda yang masih keturunan Sanghyang Ageng. Ibu Sri Jayabupati adalah putri Kerajaan Sriwijaya, dan masih kerabat dekat dengan Raja Wurawuri.
Adapun permaisuri Sri Jayabupati adalah putri Dharmawangsa Teguh dari Kerajaan Medang periode Jawa Timur dan masih merupakan adik kandung Dewi Laksmi (istri Airlangga). Karena pernikahan itu, Jayabupati mendapat anugerah gelar dari mertuanya, yakni Dharmawangsa. Gelar itulah yang tercatat pada Prasasti Cibadak.
Raja Sri Jayabupati dihadapkan pada persoalan sangat pelik. Sebagai putra mahkota Sunda keturunan Sriwijaya dan menantu Dharmawangsa Teguh, Sri Jayabupati hanya dapat menyaksikan permusuhan yang semakin menjadi-jadi antara Sriwijaya dengan Medang.
Pada puncak krisis, Sri Jayabupati terpaksa tinggal diam saat Dharmawangsa Teguh diserang oleh Haji Wurawuri atas dukungan Sriwijaya pada tahun 1016, saat merayakan pernikahan anak kandungnya. Sri Jayabupati mengetahui peristiwa yang dikenal dengan Mahapralaya itu, namun ia harus bersikap netral.
(Arief Setyadi )