Benarkah Soekarno Presiden Termiskin di Dunia?

Ricko Setya Bayu Pradana Junior, Jurnalis
Kamis 06 Juni 2024 06:29 WIB
Soekarno (Dok Arsip Nasional)
Share :

PENAMPILAN Presiden Soekarno yang perlente ternyata tak selaras dengan kenyataan. Bung Karno ternyata hidup jauh dari kemewahan. Meski penampilannya sering necis bersahaja, ia sering meminjam uang dari ajudannya untuk memenuhi kebutuhan. Bahkan setelah tak lagi jadi Presiden, kehidupannya lebih melarat.

Roso Daras, penulis buku "Sukarno Serpihan Sejarah yang Tercecer," dalam bukunya “Fatmawati Sukarno, The First Lady” menceritakan, “Sukarno, mungkin satu-satunya presiden termiskin di dunia. Semasa hidupnya, ia hanya memiliki satu rumah di Batutulis, Bogor."

Bahkan, Bung Karno pernah mengatakan kepada Cindy Adams, “Dan, adakah kepala negara lain yang lebih melarat dari aku, dan sering meminjam-minjam (uang) dari ajudannya?" Itu menggambarkan bagaimana Bung Karno melukiskan kemiskinannya.

Selama menjabat, Bung Karno memang tinggal di Istana Negara. Namun, istana tersebut milik negara. Ia tercatat hanya memiliki sebuah rumah di Batu Tulis, Bogor. Rumah-rumah yang lain, ia belikan untuk istri-istrinya.

"Sedangkan rumah Batu Tulis pun, selengsernya Bung Karno langsung disita Sekretariat Negara. Aneh. Entah atas dasar apa, rumah milik pribadi Bung Karno satu-satunya itu diambil oleh negara. Bahkan, Gubernur DKI Ali Sadikin pernah memberi sebuah rumah dan sebidang tanah untuk tinggal keluarga Sukarno," kata Roso Daras.

Harta pribadi Bung Karno yang ia tinggalkan di Istana saat diasingkan oleh rezim baru, sebatas hanya didata. Namun, barang-barangnya raib entah ke mana. Bung Karno memang berangkat bukan dari kalangan borjuis. Di masa kecilnya, ia sudah hidup prihatin.

"Aku dilahirkan di tengah-tengah kemiskinan dan dibesarkan dalam kemiskinan. Aku tidak mempunyai sepatu. Aku mandi tidak dalam air yang keluar dari keran," ungkap Bung Karno, dikutip Cindy Adams dalam buku "Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia" (1965).

Ketika Bung Karno tidak lagi menjabat sebagai Presiden, anak-anaknya tidak pernah mewarisi harta Bung Karno yang berlebihan. Mereka juga harus bekerja untuk menopang hidupnya. "Guntur dipaksa berhenti sekolah, dan bekerja membantu ibunya. Mega, Rachma, Sukma hidup bersama suaminya. Mereka masih sering berkumpul di rumah ibunya, di Jl. Sriwijaya 26, Jakarta Selatan," kata Roso.

Fatmawati, meski janda seorang presiden, juga mengalami kehidupan yang jauh dari kemewahan.

"Manakala hujan turun deras, air masuk karena atap yang bocor. Beberapa bagian langit-langit rumahnya bahkan tampak rapuh dan rusak. Sebagai janda presiden, Fatmawati tidak menerima tunjangan barang sepeser pun. Ia baru menerima tunjangan resmi pada Juni 1979, sembilan tahun setelah kematian Sukarno," beber Roso.

Pada tahun 1972, rumah Fatmawati di Jalan Sriwijaya harus ditinggalkan karena tak kuat menanggung biaya perawatan rutin. Rumah tersebut kemudian dikontrakkan, dan uangnya digunakan untuk membiayai kuliah Guruh di Belanda.

Fatmawati sendiri hidup bersama ibunya, Khadijah, di Jalan Cilandak V, Jakarta Selatan. Lokasi ini tak jauh dari area yang sekarang terkenal dengan Rumah Sakit Fatmawati. Namun saat itu, jalan menuju rumahnya sempit dan berlumpur, sangat berbeda dengan kondisi sekarang.

Perjuangan hidup yang dialami Bung Karno dan keluarganya menggambarkan sisi lain dari kehidupan seorang pemimpin besar. Mereka tidak hanya harus menghadapi tantangan politik, tetapi juga harus berjuang dalam aspek ekonomi dan keseharian.

(Salman Mardira)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya