Penelitian tersebut menunjukkan bagaimana perempuan di wilayah pesisir mengembangkan strategi adaptasi terhadap kerusakan lingkungan melalui praktik kearifan lokal.
Dalam situasi krisis ekologis, perempuan sering kali menghadapi beban ganda—baik secara ekonomi maupun sosial.
Namun melalui praktik-praktik komunitas, mereka juga menjadi aktor penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Nilai lokalitas bukan hambatan bagi kemajuan, melainkan mitra bagi pengetahuan modern dalam menjaga lingkungan,” jelas Maghfur.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan modern tidak selalu harus menggantikan pengetahuan lokal, tetapi dapat berdialog dan saling melengkapi.
Selain riset dan pengabdian masyarakat, IKRAR juga mengangkat isu penting mengenai ekosistem publikasi ilmiah di lingkungan PTKI.
Tema seperti “Ekosistem Publikasi Berkelanjutan: Membangun Budaya Menulis, Sitasi, dan Knowledge Impact di PTKI” menyoroti pentingnya membangun budaya akademik yang kuat agar PTKI mampu bersaing di tingkat global.
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah publikasi ilmiah dari PTKI terus meningkat. Namun tantangan berikutnya adalah bagaimana publikasi tersebut tidak hanya berhenti pada angka indeksasi atau sitasi, tetapi juga memiliki dampak nyata terhadap kebijakan publik dan transformasi sosial.