Ia menjelaskan, terdapat SPPG yang hanya melayani sekitar 1.000 penerima manfaat dengan jarak distribusi relatif dekat. Sementara itu, ada pula SPPG yang harus melayani lebih banyak penerima manfaat dengan jangkauan operasional yang lebih luas. Perbedaan tersebut dinilai perlu diakomodasi melalui skema insentif yang lebih proporsional dan berkeadilan.
"Nah, itu yang kami nanti akan membuat skema yang insentif yang lebih adil. Ya, misalnya gini, kan nggak juga dong SPPG yang 200 meter yang cuma melayani katakanlah 1.000 orang insentifnya sama," ujarnya.
"Nggak juga dong yang 300 meter atau 400 meter, ada bahkan yang 500 meter yang lebih bagus kok disamaratakan 6 juta? Kan nggak fair. Nah, itu skema-skema itu yang akan kami lakukan perbaikan," lanjutnya.
Di samping itu, BGN juga berencana memperkuat sistem pertanggungjawaban pengelolaan Program MBG melalui transformasi digital. Menurut Agustina, sistem yang selama ini masih bergantung pada kepala SPPG perlu didukung digitalisasi agar transparansi meningkat sekaligus mempermudah pengawasan penggunaan anggaran.
"Nah, sulit kalau kita pastikan tergantung ke orang. Tadi kami dapat masukan, kami mendengarkan arahan dari tempat lain ya, ada masalah transformasi digital, digitalisasi. Itu sesuatu yang baik, jadi kami pikir oh itu nanti akan menjadi bagian dari perbaikan. Jadi poinnya itu saja ya arahan untuk hari ini," pungkasnya.
(Awaludin)