JAKARTA – Sejumlah peristiwa bersejarah tercatat terjadi pada 28 September dari tahun ke tahun. Salah satu yang paling membekas adalah bencana gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4 yang kemudian diikuti tsunami dan menerjang sejumlah wilayah di Sulawesi pada 28 September 2018.
Berikut sejumlah peristiwa bersejarah yang terjadi pada 28 September, sebagaimana dirangkum dari beragam sumber, salah satunya wikipedia, Minggu (27/9/2026).
- Hari Kereta Api Indonesia
Tanggal 28 September diperingati sebagai Hari Kereta Api Indonesia. Penetapan tanggal tersebut tidak terlepas dari sejarah perjalanan perkeretaapian di Tanah Air.
Sejarah tersebut bermula setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Beberapa hari setelah proklamasi, para pejuang mengambil alih sejumlah stasiun dan kantor perkeretaapian yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Jepang.
Pengambilalihan kemudian mencapai puncaknya pada 28 September 1945 ketika Kantor Pusat Kereta Api di Bandung berhasil dikuasai. Peristiwa tersebut sekaligus menjadi penanda berdirinya DKARI.
- Gempa M7,4 dan Tsunami Hantam Palu dan Donggala
Bencana besar melanda Sulawesi Tengah pada 28 September 2018. Sekitar pukul 18.02 WITA, gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4 mengguncang wilayah tersebut dan kemudian disusul gelombang tsunami yang mencapai sekitar 5 meter.
Pusat gempa berada sekitar 26 kilometer sebelah utara Donggala dan 80 kilometer barat laut Kota Palu. Gempa dan tsunami tersebut menerjang sejumlah wilayah, terutama Palu dan Donggala.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban meninggal dunia mencapai 2.045 orang. Korban terbanyak tercatat berada di Palu dengan 1.636 orang, kemudian disusul Sigi dan Parigi.
Selain korban meninggal, sebanyak 82.775 orang tercatat mengungsi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 8.731 orang mengungsi ke wilayah di luar Sulawesi.
Bencana tersebut juga menyebabkan kerusakan pada 66.390 rumah. Gempa yang terjadi pada 28 September 2018 menjadi salah satu bencana alam paling parah karena tidak hanya memicu tsunami setinggi sekitar lima meter, tetapi juga fenomena likuefaksi atau pencairan tanah.
Fenomena tersebut membuat sejumlah kawasan mengalami pergerakan tanah yang menyeret dan menghancurkan bangunan serta menyebabkan banyak korban jiwa.
- Tragedi Berdarah di Lampung
Tragedi Lampung pada 28 September 1999 merupakan peristiwa berdarah yang mengakibatkan dua mahasiswa meninggal dunia. Keduanya tewas ketika mengikuti aksi demonstrasi menolak RUU Penanggulangan Keadaan Bahaya (PKB) sekaligus sebagai bentuk solidaritas terhadap rekan-rekan mereka yang meninggal dalam peristiwa Semanggi di Jakarta empat hari sebelumnya.
Peristiwa tersebut bermula ketika sejumlah mahasiswa Universitas Lampung bergerak menuju Universitas Bandar Lampung untuk bergabung dengan mahasiswa lainnya. Setelah berkumpul, mereka menggelar aksi demonstrasi dan kemudian berjalan menuju Makorem 043/Garuda Hitam.
Saat rombongan melewati Markas Koramil Kedaton yang berada di sekitar Universitas Bandar Lampung, para mahasiswa menurunkan bendera hingga setengah tiang. Hal itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada mahasiswa yang beberapa hari sebelumnya tewas tertembak.
Situasi kemudian memanas dan tidak terkendali. Aksi saling lempar batu terjadi, disertai suara tembakan. Salah seorang mahasiswa FISIP Universitas Lampung, Muhammad Yusuf Rizal, meninggal dunia setelah terkena tembakan yang mengenai bagian dada dan leher.
Beberapa hari setelah kejadian tersebut, mahasiswa Lampung lainnya, Saidatul Fitriah, juga meninggal dunia akibat luka yang dideritanya setelah mengalami kekerasan aparat.
(Arief Setyadi )