Dengan demikian, manusia yang hendak dibangun bukan hanya manusia yang saleh secara spiritual, tetapi juga manusia yang memiliki ilmu, kemampuan dan kemandirian untuk menentukan masa depannya sendiri.
Dia mengatakan, Kongres ke-42 sekaligus menjadi momentum untuk menyegarkan kembali pemahaman terhadap Program Asas dan Program Tandhim Syarikat Islam.
“Keduanya harus dibaca dalam hubungannya dengan realitas masyarakat, kehidupan kebangsaan dan kenegaraan Indonesia saat ini,” pungkasnya.
Sementara itu, Menteri Koperasi yang juga Sekretaris Jenderal Syarikat Islam, Ferry Juliantono, menegaskan bahwa gagasan dakwah ekonomi akan diterjemahkan melalui penguatan ekonomi syariah, koperasi, serta zakat dan wakaf.
Menurut Ferry, penguatan tersebut antara lain dilakukan dengan mendorong koperasi berbasis pesantren dan masjid, pembiayaan syariah, serta memperluas akses permodalan agar semakin banyak pengusaha muslim dapat tumbuh dan mengambil peran lebih besar dalam perekonomian nasional.
Ferry menilai Syarikat Islam memiliki modal sejarah yang kuat karena sejak awal lahir dari gerakan ekonomi rakyat dan kemudian berkembang menjadi kekuatan pergerakan kebangsaan.
Dengan demikian, dakwah ekonomi yang diusung dalam Kongres ke-42 menjadi bentuk aktualisasi warisan perjuangan tersebut.
"Dari perjuangan ekonomi kaum pribumi, gagasan sosialisme Islam, pendidikan dan perkaderan, hingga penguatan koperasi dan ekonomi syariah hari ini, Syarikat Islam berupaya menyambungkan kembali satu garis perjuangan. Membangun umat yang mandiri dan berdaulat sebagai jalan menuju kemerdekaan sejati,"pungkasnya.
(Fahmi Firdaus )