"Capaian ini patut diapresiasi, tetapi tantangan yang masih ada juga harus diakui. Evaluasi dan perbaikan perlu difokuskan pada pemerataan manfaat, ketepatan sasaran, kualitas pelaksanaan program, serta efektivitas belanja negara," ujarnya.
Di sektor pangan, Sugiat menyebut pemerintah melaporkan pencapaian swasembada delapan komoditas strategis, yakni beras, jagung, cabai besar, cabai rawit, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah. Pemerintah juga menyederhanakan 145 aturan penyaluran pupuk serta menurunkan harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi sebesar 20 persen sejak Oktober 2025. Selain itu, nilai tukar petani pada September 2026 tercatat mencapai 131,11 atau meningkat 1,49 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Meski demikian, Sugiat mengingatkan penguatan produksi pangan harus diikuti dengan stabilitas harga dan distribusi yang merata di seluruh daerah. Ketersediaan pupuk serta antisipasi terhadap gangguan pasokan juga perlu terus diperkuat.
"Kemandirian pangan harus diikuti dengan stabilitas harga yang bisa dirasakan masyarakat di seluruh daerah. Distribusi pangan, ketersediaan pupuk, dan antisipasi gangguan pasokan juga harus terus diperkuat," katanya.
Di sektor pendidikan dan kesehatan, program Cek Kesehatan Gratis dilaporkan telah menjangkau 99,1 juta orang. Sementara itu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) mencakup sekitar 57 juta penerima manfaat per Agustus 2026. Adapun program Sekolah Rakyat telah beroperasi di 182 lokasi dengan jumlah siswa sekitar 44 ribu orang.