Bom itu pertama kali digunakan pada April 2017, saat masa jabatan pertama Trump, untuk menyerang kompleks terowongan milik kelompok teroris Daesh di Afghanistan.
Di sisi lain, Mohebi juga mengklaim bahwa persediaan rudal Iran meningkat 1,5 kali lipat setelah perang selama 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni 2025. Meski demikian, dia tidak menyebutkan jumlah pasti persediaan rudal tersebut.
“Kualitas rudal telah meningkat secara signifikan, dan jangkauan, daya hancur, serta akurasi dalam mengenai sasaran juga meningkat,” ujarnya.
Sementara itu, Israel dan AS melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari. Teheran kemudian merespons dengan melancarkan serangan terhadap Israel dan fasilitas militer AS di sejumlah negara Arab.
Washington dan Teheran menandatangani nota kesepahaman pada Juni, sebelum memulai perundingan. Namun, negosiasi tersebut akhirnya gagal akibat perbedaan pendapat mengenai kebebasan navigasi dan keamanan di Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menjadi salah satu rute utama pengiriman energi dan barang dunia.
(Awaludin)