TEHERAN - Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad memandang sanksi dunia Barat terhadap sektor perminyakan Iran, sebagai sebuah tindakan menggelikan. Baginya sanksi itu menunjukkan dunia Barat amat terbelakang.
"Hanya pemerintahan yang secara politis terbelakang, menggunakan isu minyak sebagai alat untuk perang. Mereka hanya tidak ingin Iran memiliki program nuklir. Sanksi ini amat menggelikan," tegas Ahmadinejad, seperti dikutip Associated Press, Selasa (31/7/2012).
Kecaman Ahmadinejad ini dilontarkannya setelah Kongres Amerika Serikat (AS) menyetujui paket sanksi baru bagi Iran. Sanksi kali ini melebar pada sanksi finansial dan ditujukan kepada sektor energi dan perkapalan.
Sanksi demi sanksi telah dikeluarkan oleh dunia Barat terhadap Iran. Sanksi itu dikeluarkan dengan maksud Negeri Paramullah itu mengakhiri program nuklir mereka. Selama ini dunia internasional mengkhawatirkan program nuklir Iran, juga menghasil senjata nuklir yang mematikan.
Hukuman yang diberikan kepada Iran, lebih banyak ditujukan kepada sektor perminyakan mereka. Iran memang bergantung kepada produksi minyak tersebut, karena menghasilkan pendapatan luar negeri hingga 80 persen.
Pemimpin Spiritual Iran, Ayatullah Ali Khamenei, meminta bangsanya untuk tidak lagi bergantung pada minyak untuk menggerakkan ekonomi. Iran harus mengandalkan sumber-sumber lain -seperti ilmu pengetahuan dan teknologi- agar tetap mandiri walau kini terus ditekan dunia Barat dengan berbagai sanksi.
Bagi Khamenei, penjualan minyak mentah adalah jebakan yang diwarisi negaranya sebelum Revolusi Islam yang terjadi pada 1979. Menurutnya, Iran saat ini sudah terpaku pada minyak dan sudah seharusnya diatur langkah agar rakyat Iran tidak terbelenggu perangkap itu.
(Fajar Nugraha)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.