SURABAYA - Persolan pengungsi Syiah asal Kabupaten Sampang menjadi pekerjaan besar bagi Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Gubernur Jatim Soekarwo sudah menyampaikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahwa persoalan pengungsi Syiah diselesaikan secara kultural, bukan struktural. “Saat Pak Presiden ke Madura, saya telah meminta agar persoalan pengungsi Syiah diselesaikan secara kultural,” kata Soekarwo, Minggu (15/12/2013).
Menurutnya, penyelesaian secara kultural ini jauh lebih baik ketimbang mengeluarkan instruksi gubernur atau menteri. “Tentunya pendekatan secara kekeluargaan itu jauh lebih berguna daripada harus mengeluarkan instruksi gubernur,” ungkapnya.
Presiden SBY, kata dia, sudah menyetujui opsi penyeleseian seperti itu. “Ketika di Madura saya laporkan. Penyeleseaian kekeluargaan dan kebersamaan tokoh lebih baik. Pak Presiden meminta Silakan dilakukan opsi yang terbaik,” tambahnya.
Cara penyelesaian kultural, jelas dia, adalah melakukan pendekatan kepada saudara-saudara para pengungsi Syiah yang berada di Sampang. Para pengungsi Syiah saat ini masih berada di Sidoarjo.
Ia mengklaim, hasil dari pendekatan tersebut cukup bagus. “Orang yang mau kembali (dari pengungsian) memang masih sedikit. Namun yang sudah bersedia (dipulangkan) banyak,” katanya.
Namun, Soekarwo mengaku infrastruktur di lokasi yang akan ditempati masih minim. Salah satunya, rumah yang akan mereka tempati belum selesai dibangun. Karena itu, Pemprov Jatim akan mengucurkan dana sebesar Rp2,5 milliar.
Pemprov Jatim bekerja sama dengan Kodam dan Pemkab Sampang akan mengebut pembangunan infrasrtuktur.
“Dana itu kami serahkan ke Pemkab setempat yang bekerja sama dengan pihak Kodam,” tukasnya.
(Anton Suhartono)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.