Buat Koleksi, Pedagang Perlengkapan Bayi Simpan Dua Senjata Api

Nurul Arifin, Okezone · Selasa 03 Juni 2014 15:19 WIB
https: img.okezone.com content 2014 06 03 519 993379 U2xfodRsGY.jpg Senjata api jenis revolver (Foto: Ist)

SURABAYA - Subdit III Jatanras Polda Jawa Timur menyita dua senjata api (senpi) dari seorang pedagang perlengkapan bayi.

Pelaku berinisial BH (38) Warga Jalan Rangkah, Tambak Sari Surabaya. Dari tangan BH polisi berhasil menyita dua pucuk senpi Pistol Browning Power Auto 9 mm buatan Belgia dan Revolver S&W Cai 22 mm.

Selain BH, polisi juga menangkap RY (39) warga Jalan Krembengan Baru, Surabaya. Dari tangan RY polisi menyita 5 pucuk senjata airsot gun berbagai jenis.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Awi Setiyono mengatakan, penangkapan tersangka ini bermula dari informasi masyarakat.

"Dari penangkapan BH ini dikembangkan ke tersangka RY. Senjata dari berbagai jenis ini tanpa dilengkapi surat izin alias ilegal," kata Awi, Selasa (3/6/2014).

Tersangka BH menyewa kepada RH dua pucuk senjata api itu dengan harga Rp10 Juta. BH mengaku, belum pernah menggunakan senpi itu untuk aksi kejahatan.

"BH mengaku senjata api ini disewa hanya untuk koleksi saja. Demikian dengan RY yang mengaku hanya untuk koleksi, namun polisi masih melakukan pengembangan kasus tersebut, yang jelas senjata-senjata ini ilegal," katanya.

Kepada petugas RY mengaku mendapat semua senjata itu dari seorang teman facebook berinisial IR yang saat ini masih dalam pengejaran petugas. Untuk airsoft gun dibelinya dengan harga antara Rp1.950.000 hingga Rp2.200.000.

Sedangkan untuk senjata api jenis Pistol Browning dibeli dengan harga Rp13 juta dan Revolver Rp13 juta. RY dan IR berhubungan melalui facebook.

"Senjata-senjata itu dikirim melalu pake pengiriman dari Januari 2013 hingga Mei 2013," kata Awi. Selain senpi, Polisi juga menyita 19 Peluru tajam dan ratusan butir peluru airsoft gun.

Sementara itu, tersangka BH mengaku bahwa dua pucuk senpi miliknya adalah milik RY. Senjata tersebut juga sering dibawa berpergian ke mana-mana. "Hanya untuk koleksi saja, nggak pernah saya gunakan untuk kejahatan," singkatnya.

Atas perbuatan itu, para tersangka dijerat dengan undang-undang darurat nomor 12 tahun 1951 tentang Senpi dengan ancaman hukuman mati, seumur hidup atau 20 Tahun.

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini