YOGYAKARTA - Tiga ekor elang jawa yang baru ditemukan di kawasan Gunung Merapi masih rawan terhadap ancaman, yang berasal dari perburuan maupun sesama hewan liar yang bermukim di wilayah tersebut.
"Perburuan di kawasan Merapi masih ada, terutama di daerah Klaten, Jawa Tengah, masih cukup rawan," kata Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), Arief Sulfiantoro saat dihubungi Senin (21/3/2016).
Arief mengatakan, ada berbagai macam hewan liar yang berpotensi memakan elang jawa yang masih kecil tersebut, seperti kera ekor panjang yang memang banyak ditemui di Gunung Merapi. "Kera ekor panjang bisa menjangkau habitat elang jawa," ucapnya
Menurut dia, elang jawa memiliki durasi reproduksi yang sangat lamban. Hewan tersebut akan bertelur setahun sekali, itupun hanya satu butir. Sehingga perlu pengawasan ekstra untuk satwa yang memiliki nama latin Nisaetus Bartelsi tersebut.
"Kalau salah satu pasangannya sudah tidak ada, ia tidak akan berkembang biak lagi," katanya
Untuk itu, pihaknya akan melakukan upaya untuk penyelamatan elang jawa, salah satunya dengan mencari sarang elang jawa dengan pengamatan. Pencarian sarang difokuskan pada lokasi penemuan elang jawa sebelumnya, yakni di wilayah Plawangan, Kaliurang, serta lereng Merapi di Dukun, Magelang, Jawa Tengah. Selain itu, pihaknya terus berusaha melakukan penghijauan agar habitatnya tetap terjaga.
"Elang jawa sangat sensitif, kami akan lakukan pengamanan lingkungan," ucapnya.
Sebelumnya, jumlah elang jawa di wilayah Merapi dari hasil perhitungan Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) meningkat populasinya menjadi enam ekor. Padahal sebelumnya hanya tiga ekor.
"Jumlahnya bertambah tiga menjadi enam ekor," kata Kepala Sub Bagian Tata Usaha (TU) TNGM, Tri Atmojo.
(Fransiskus Dasa Saputra)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.