Share

HISTORIPEDIA: Deklarasi Balfour, Sepucuk Surat yang Mengawali Penderitaan Panjang Rakyat Palestina

Wikanto Arungbudoyo, Okezone · Jum'at 03 November 2017 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2017 11 02 18 1807265 historipedia-deklarasi-balfour-sepucuk-surat-yang-mengawali-penderitaan-panjang-rakyat-palestina-j2IIJse8KE.jpg Sepucuk surat dari Menlu Inggris Arthur Balfour berdampak panjang bagi rakyat Palestina (Foto: Breaking Israel News)

Keselamatan warga Yahudi di Eropa dan Amerika tentu saja terancam. Belum lagi, risiko meningkatnya gerakan anti-Semit di negara-negara yang terlibat perang dengan Inggris, terutama yang pernah berada di bawah Kesultanan Ottoman.

Tanpa memandang risiko itu, pemerintahan David Lloyd George maju terus dengan dukungan terhadap Zionis. Pada 2 November 1917, sepucuk surat dikirim oleh Arthur Balfour kepada Rothschild yang juga merupakan rekan dekat dari Chaim Weizmann.

“Pemerintah memandang pentingnya dukungan terhadap pendirian sebuah negara Yahudi di tanah Palestina dan akan menggunakan usaha terbaik untuk memfasilitasi pencapaian tersebut. Harus dipahami dengan jelas bahwa tidak ada hal yang dilakukan yang dapat merugikan hak-hak sipil dan agama dari komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina, atau hak dan status politik yang dinikmati oleh Yahudi di negara lain,” tulis Balfour, mengutip dari History, Jumat (3/11/2017).

Deklarasi Balfour memiliki efek paling dahsyat di Palestina. Sesuai mandat yang dibuat dari Pakta Versailles 1919, Inggris diberikan kuasa untuk memerintah sementara di Palestina. Pemberian wewenang tersebut dilandasi harapan bahwa Inggris akan berlaku adil pada orang Yahudi dan suku Arab yang ada di Palestina.

Akan tetapi, harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Banyak suku Arab di Palestina yang marah besar karena gagal mendapatkan kewarganegaraan dan pemerintahan berdaulat sebagai imbalan yang diharapkan atas partisipasi mereka dalam perang melawan Kesultanan Ottoman.

Dalam waktu singkat, populasi Yahudi di Palestina meningkat yang diiringi dengan kekerasan antara Yahudi dengan Arab. Ketidakstabilan di kawasan tersebut memaksa Inggris menunda keputusan akan masa depan Palestina. Penundaan keputusan tersebut nyatanya sangat fatal.

Dampak Perang Dunia II dan trauma Holocaust pada masa Nazi Jerman membuat dukungan terhadap gerakan Zionis dari dunia internasional meningkat pesat. Dukungan tersebut akhirnya menghasilkan deklarasi resmi Negara Yahudi Israel pada 1948. Sengketa tanah itu masih berlangsung hingga hari ini antara Israel dengan Palestina.

Baca Juga: KKP Pastikan Proses Hukum Pelaku Perdagangan Sirip Hiu Ilegal di Sulawesi Tenggara

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini