nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengenal Ragam Bahasa di Jakarta dari Masa ke Masa

Fiddy Anggriawan , Jurnalis · Rabu 12 Juni 2019 12:16 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 06 12 338 2065591 mengenal-ragam-bahasa-di-jakarta-dari-masa-ke-masa-Dl8KLXellq.jpg Ilustrasi Masyarakat Jakarta Berinteraksi di Salah Satu Ikon Ibu Kota, yakni Monumen Nasional atau Monas (foto: Okezone)

JAKARTA memiliki keragaman bahasa. Yuk kita simak berbagai macam bahasa yang sempat digunakan masyarakat Jakarta dari masa ke masa.

Dilansir dari buku Ensiklopedia Jakarta, di masa sebelum Soempah Pemoeda (1928), masyarakat Jakarta tempo doeloe sudah menggunakan bahasa Melayu, seperti yang digunakan di Sumatera dan kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional.

Baca Juga: Cerita-Cerita di Balik Asal Usul Kawasan Condet 

Wisata Monas Jadi Andalan Warga Ibu Kota Nikmati Libur Lebaran

Karena perbedaan bahasa yang mereka gunakan tersebut, pada awalnya Belanda menganggap orang yang tinggal di sekitar Batavia sebagai etnis atau suku bangsa yang berbeda dengan etnis Melayu dan menyebutnya sebagai orang Betawi (turunan dari kata Batavia).

Walaupun demikian, masih banyak nama daerah dan nama sungai yang tetap dipertahankan dalam bahasa asli atau bahasa daerahnya seperti Ancol, Pancoran, Cilandak, Ciliwung, Cideng (yang berasal dari Cihideung dan kemudian berubah menjadi Cideung dan terakhir Cideng), dan lain-lain.

Meskipun bahasa formal yang digunakan di Jakarta adalah Bahasa Indonesia, bahasa informal atau bahasa percakapan sehari-hari masyarakat Jakarta adalah Bahasa Indonesia dialek Betawi.

Kendati bahasa daerah juga digunakan oleh penduduk pendatang yang berasal dari daerah lain, seperti bahasa Jawa, Sunda, Minang, Batak, Madura, Bugis, dan juga bahasa Tionghoa.

Hal demikian terjadi karena Jakarta adalah tempat bertemunya berbagai suku bangsa. Namun, untuk berkomunikasi antar suku bangsa, digunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Bus Pariwisata Jakarta Resmi Beroperasi 

Masyarakat Jakarta, khususnya kalangan anak muda, kini banyak menggunakan bahasa gaul. Bahasa gaul adalah bahasa yang muncul spontan dan merupakan campuran dari beberapa bahasa. Sebagai contoh: Please dong ah!, Cape deh!, dan So what gitu loh!

Baca Juga: Menguak Sejarah Little India di Sunter Jakarta Utara 

Ungkapan gaul ini tentu merupakan campuran dari kata-kata dalam bahasa Inggris dan dialek Betawi. Pemakaian bahasa Inggris dalam kehidupan masyarakat Jakarta hanya dipakai untuk kepentingan diplomatik, pendidikan, dan urusan bisnis.

Ada juga bahasa Mandarin (Tionghoa) yang digunakan di kalangan pebisnis, terutama di daerah Glodok dan Pasar Pagi.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini