TANGERANG SELATAN – Guru Rumini (44) menyambangi kantor Wali Kota Airin Rachmi Diany di Pusat Pemerintahan Kota (Puspemkot) Tangerang Selatan (Tangsel), Maruga, Ciputat, Senin (9/9/2019).
Kedatangan Rumini ingin menanyakan kelanjutan kasus pungutan liar (pungli) yang pernah dilaporkannya sekira 2 bulan silam. Namun, dia kecewa lantaran tak bisa menemui Airin karena Wali Kota Tangsel tersebut sedang sibuk.
"Tadi saya dikabari sama salah satu staf penerimaan tamu di bawah, katanya ibu sedang ada agenda. Lalu saya ditanyakan apa keperluannya, terus disuruh mengisi buku tamu saja," katanya kepada Okezone di lokasi.
Rumini tak menyerah. Dia tetap menunggu di pinggiran gedung megah tempat Wali Kota Airin bertugas. Sesekali mantan guru SDN Pondok Pucung 02 itu kembali mendatangi petugas di meja penerimaan tamu guna menanyakan kapan bisa menemui Airin.
"Ya enggak tahu sampai kapan menunggu. Tadi saya bilang kalau saya ingin menemui Ibu Wali Kota untuk menanyakan soal pungli itu. Prosesnya bagaimana. Saya enggak melihat ada keseriusan untuk menuntaskannya," ucap Rumini.

Rumini datang dengan membawa berkas dan bukti-bukti lengkap yang disampaikannya kepada tim Inspektorat Pemkot Tangsel waktu lalu. Dia berharap, jika berhasil menemui Wali Kota Airin, akan menanyakan sejauh mana proses yang dilakukan terhadap pelaporan soal pungli.
"Kalau bisa bertemu, saya ingin sekali menanyakan bagaimana kasus pungli yang saya laporkan. Saya ingin tahu seberapa kuat komitmen beliau menjadikan Tangsel kota cerdas, modern, dan religius," ucapnya.
Setelah lama menunggu dan tak juga ada kejelasan kapan Wali Kota Airin mau menyempatkan diri menemuinya, raut kecewa terpancar dari wajah Rumini. Dengan tetap tersenyum dia memilih pulang ke kediamannya di kawasan Pesanggrahan, Jakarta Selatan.
"Saya terima kasih kepada semua pihak, kepada teman-teman media yang selalu support untuk membongkar pungli ini. Kalau ini berhasil diungkap, dituntaskan, maka kita semua telah berperan membersihkan semua sekolah dari praktik pungli. Jadi SDN Pondok Pucung 02 hanya salah satu saja, karena kuat kemungkinan semua sekolah melakukan hal yang sama," ujarnya.