nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Lima Kali Dinominasikan, Mahatma Gandhi Tak Pernah Menerima Nobel Perdamaian

Rahman Asmardika, Jurnalis · Sabtu 12 Oktober 2019 08:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 10 11 18 2115894 lima-kali-dinominasikan-mahatma-gandhi-tak-pernah-menerima-nobel-perdamaian-NRaL5JVmW8.jpg Mahatma Gandhi. (Foto: AP)

HADIAH Nobel adalah sebuah penghargaan yang diberikan kepada tokoh-tokoh yang dianggap berjasa besar dalam berbagai bidang: literatur, fisika, kimia, perdamaian, ekonomi dan medis. Para penerimanya diseleksi oleh sebuah komite yang ditunjuk oleh institusi Nobel di Swedia dan Norwegia.

Para juri harus melakukan seleksi yang seksama untuk menetapkan kandidat yang pantas dianggap sebagai pemenang penghargaan prestisius itu, karena sekali diberikan, Hadiah Nobel tidak dapat ditarik kembali. Namun, sepanjang sejarah, terkadang komite Nobel dan para juri membuat kesalahan dalam menetapkan pemenang Nobel.

BACA JUGA: Terbunuhnya Mahatma Gandhi

Salah satu kesalahan komite Nobel yang paling sering diangkat adalah bagaimana seorang tokoh perdamaian yang sangat berpengaruh dan terkenal di dunia, Mahatma Gandhi tidak pernah menerima Hadiah Nobel perdamaian meski telah lima kali dinominasikan.

Mohandas Karamchand Gandhi, atau yang dikenal sebagai Mahatma Gandhi adalah seorang tokoh kemerdekaan India yang menjadi simbol perlawanan tanpa kekerasan paling berpengaruh sepanjang abad ke-20.

Pria yang lahir di Porbandar, India pada 2 Oktober 1869 yang menempuh pendidikan hukum di Inggris itu sempat bekerja sebagai pengacara di Afrika Selatan pada 1893 di mana dia berupaya meningkatkan kondisi kehidupan minoritas India di sana. Pengalamannya di Afrika Selatan, terutama menghadapi undang-undang yang rasis, menumbuhkan komitmen nasionalitas dan agama yang kuat, dan keinginan untuk berkorban.

Di sana dia memperkenalkan metode-metode tanpa kekerasan untuk memperjuangkan hak-hak asasi bagi etnis India di Afrika Selatan yang cukup sukses memberikan hasil.

Setelah kembali ke India pada 1915, Gandhi menjadi tokoh penting di Partai Kongres Nasional India. Dia memprakarsai serangkaian kampanye tanpa kekerasan terhadap pemerintah Inggris. Pada saat yang sama ia melakukan upaya keras untuk mempersatukan orang-orang Hindu, Muslim, dan Kristen India, dan berjuang untuk kesetaraan 'yang merupakan hal yang tabu ' dalam masyarakat Hindu.

Gandhi pertama kali dinominasikan untuk menerima Nobel Perdamaian pada 1937 oleh anggota Storting (parlemen) Norwegia, Ole Colbjørnsen. Gandhi menjadi satu dari 13 kandidat. Namun, penasihat komite saat itu, Profesor Jacob Worm-Müller, yang menulis laporan tentang Gandhi, kritis terhadap pencalonan itu.

Di satu sisi Profesor Worm-Müller memahami kekaguman terhadap Gandhi sebagai tokoh yang dihormati dan dicintai publik di India, namun di sisi lain dia juga melihat Gandhi sebagai seorang pemimpin politik, yang menurutnya kurang menguntungkan dalam pemilihan.

“Perubahan tajam dalam kebijakannya, yang sulit dijelaskan oleh para pengikutnya. (...) Dia adalah pejuang kemerdekaan dan diktator, seorang idealis dan nasionalis. Dia sering kali adalah seorang Kristus (orang suci), tetapi kemudian, tiba-tiba, (menjadi) seorang politisi biasa,” tulis Profesor Worm-Müller sebagaimana dikutip dari nobelprize.org.

Kritik lain terhadap Gandhi adalah bahwa dia utamanya adalah seorang tokoh nasionalis India, sehingga menimbulkan pertanyaan apakah ide-ide Gandhi dimaksudkan untuk dunia secara universal atau hanya untuk orang India saja.

Gandhi tidak terpilih pada 1937, dengan Hadiah Nobel Perdamaian dianugerahkan pada Lord Cecil of Chelwood, seorang penggagas terbentuknya Liga Bangsa-Bangsa, yang merupakan organisasi cikal bakal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Ole Colbjørnsen kembali mencalonkan Gandhi pada 1938 dan 1939, tetapi lagi-lagi dia tidak terpilih. Setelah berselang hampir 10 tahun, barulah nama Gandhi kembali masuk sebagai salah satu kandidat komite.

Pada 1947 nominasi Gandhi datang melalui telegram dari India, melalui Kantor Luar Negeri Norwegia. Para nominatornya adalah Perdana Menteri Bombay, B.G. Kher; Perdana Menteri Provinsi Bersatu India, Govindh Bhallabh Panth, dan Presiden Majelis Legislatif India, Mavalankar.

Namun saat itu, konflik antara India yang baru saja merdeka dengan Pakistan yang memisahkan diri dari India-Inggris turut menjadi pertimbangan bagi komite Nobel. Dua anggota komite Nobel Herman Smitt Ingebretsen dan Christian Oftedal mendukung Gandhi, namun mereka tidak berhasil meyakinkan tiga anggota lainnya Martin Tranmæl, Birger Braadland, dan Gunnar Jahn. Ketiganya enggan menganugerahkan Nobel Perdamaian kepada Gandhi di tengah konflik India dan Pakistan, sementara Gandhi dianggap sangat condong ke salah satu pihak.

Mahatma Gandhi dibunuh pada 30 Januari 1948, dua hari sebelum tanggal penutupan nominasi Nobel Perdamaian pada tahun itu. Komite menerima enam surat yang mendominasikan Gandhi sebagai peraih Nobel Perdamaian pada tahun itu, namun, saat itu belum ada yang pernah menerima Hadiah Nobel setelah mereka meninggal dunia. Komite sempat mempertimbangkan untuk menganugerahkan Nobel Perdamaian secara anumerta untuk Gandhi, tetapi setelah melalui pertimbangan lebih jauh, mereka pikir, hadiah Nobel tidak boleh diberikan kecuali pemenangnya meninggal setelah keputusan Komite dibuat.

Pada 18 November 1948, Komite Nobel Norwegia memutuskan untuk tidak memberikan penghargaan tahun itu dengan alasan bahwa “tidak ada kandidat yang masih hidup yang cocok”.

BACA JUGA: Kecelakaan Pesawat Misterius Tewaskan Sekjen PBB

Namun, setelah 1948, Kontroversi Gandhi terus berlanjut. Pada 1961, Sekjen PBB, Dag Hammarskjöld dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian, meskipun ia telah meninggal dalam kecelakaan pesawat awal tahun itu.

Saat Dalai Lama dianugerahi hadiah perdamaian pada 1989, ia mengumumkan bahwa ia menerima penghargaan itu, sebagian, sebagai penghargaan untuk Gandhi. Dan barulah, pada 2006, lebih dari 50 tahun setelah kematian Gandhi, Komite Nobel sendiri secara terbuka mengakui pengabaian terhadap Gandhi. Badan itu menyatakan penyesalan bahwa Gandhi tidak pernah dianugerahi Nobel Perdamaian.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini