CIREBON - Presiden Joko Widodo akhirnya resmi melarang masyarakat mudik di tengah pandemi virus corona (Covid-19). Keputusan tersebut diambil sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19.
Pelarangan mudik tersebut membuat sebagian masyarakat kurang setuju. Salah satunya adalah Lili (68), seorang pemilik toko oleh-oleh khas Cirebon, Jawa Barat.
Kepada Okezone, Lili mengaku khawatir kebijakan pelarangan mudik ini akan berpengaruh terhadap penjualan di toko oleh-olehnya. Sebab, menurutnya, sejak adanya pandemi Covid-19 saja penjualan oleh-oleh khas Cirebon di tokonya mengalami penurunan.
Toko oleh-oleh milik Lili berada di samping jalur Pantura Cirebon. Karena strategis, setiap musim mudik lebaran tokonya selalu ramai didatangi pembeli yang merupakan pemudik dari luar kota. Bahkan, Lili bisa mendapat keuntungan sebesar Rp25 juta pada musim mudik lebaran.
"Berdampak sekali (pelarangan mudik). Sekarang aja penghasilan menurun drastis. Biasanya rame kalau mau lebaran itu. Seminggu mau lebaran sama seminggu sesudah lebaran. Habis lebaran biasanya ada sisa sampai Rp25 juta. Lumayan bisa buat beli pakaian," kata Lili saat berbincang dengan Okezone, Rabu (22/4/2020).
Lebih dari 20 tahun Lili sudah menjual oleh-oleh khas Cirebon. Lili mengungkapkan, di hari-hari biasa ia bisa mendapat keuntungan sebesar Rp1 juta. Namun karena pandemi virus corona, pendapatannya menurun sampai Rp200 ribu.
Ia melanjutkan, oleh-oleh yang biasanya diburu oleh para pemudik adalah kerupuk kulit khas Cirebon. Lili mengatakan, kerupuk kulit ini ia produksi sendiri. Sedangkan, untuk oleh-oleh lainnya ia biasa berbelanja di pasar kue Plered, Cirebon.
"Kalau sekarang menurun drastis. Kadang dapet 200 ribu. Dapet 1 juta aja jarang-jarang. Sebelum corona tuh bisa dapet lebih 1 juta. Kalo sekarang susah. Cuman 200 ribu sama 500 ribu," ujar Lili.
Lili menceritakan, karena sepi pembeli dirinya kini membatasi barang-barang yang mesti dibelanjakan. Ia hanya berbelanja apabila stok oleh-oleh khas Cirebon di tokonya berkurang.
Dirinya berharap agar pandemi Covid-19 ini secepatnya bisa selesai. Sehingga ia dapat berjualan secara normal kembali. Oleh-oleh di toko Lili sendiri terdiri dari makanan dan kue-kue khas Cirebon yang beraneka ragam. Setiap musim mudik tokonya pasti akan sesak oleh pemudik yang membeli oleh-oleh di tokonya.
"Kalau sekarang biasanya belanja banyak belanja oleh-oleh sekarang kita jualan biasa-biasa aja. Pasrah aja. Kalau pembelinya rame saya belanjanya banyak. Belanja cuman seminggu sekali. Kalau belanja di pasar kue plered. Belanja mipil aja, kalau ada uangnya sejuta ya belanja segitu. Jangan sampai ada yang kosong," tambahnya.
Selain Lili, kekhawatiran akan dampak yang ditimbulkan dari kebijakan pelarangan mudik juga dirasakan oleh penjual batik di Pasar Batik Trusmi, Cirebon, Jawa Barat.

Kepala Pasar Batik Trusmi, Subandi menyampaikan, sejak adanya pandemi Corona jumlah pengunjung yang datang ke Pasar Batik Trusmi mengalami penurunan. Bahkan, penurunan tersebut mencapai 90 persen. Ia memperkirakan penurunan pengunjung ini bisa lebih parah saat mudik dilarang pemerintah.
Dijelaskannya, hampir 80 persen pembeli batik di Pasar Batik Trusmi berasal dari luar kota. Ketika mudik dilarang, secara otomatis jumlah pengunjung pasti akan berkurang.
"Sangat berpengaruh sekali. Jangankan mudik dilarang, sekarang aja gak bisa keluar dari kotanya untuk masuk ke sini. Sedangkan di pasar batik mengandalkan pembeli dari luar kota atau pendatang. 80 persen pembeli dari luar kota," ungkap Subandi saat ditemui Okezone.
Subandi menerangkan, saat pengunjung ramai, pedagang di Pasar Batik Trusmi bisa mendapat keuntungan sebesar Rp10 juta hingga Rp20 juta. Ia menuturkan, Pasar Batik Trusmi akan ramai didatangi pemudik saat arus balik. Mereka biasanya menjadikan batik di Pasar Batik Trusmi sebagai oleh-oleh.
Selain itu, lanjutnya, Pasar Batik Trusmi biasanya akan ramai saat akhir pekan. Namun karena pandemi Covid-19, saat ini Pasar Batik Trusmi kondisinya sangat sepi. Menurut Subandi, ada sekitar 80 sampai 90 penjual batik yang aktif berjualan di Pasar Batik Trusmi.
"Kalau di weekend bisa dapet keuntungan 10 sampai 20 juta. Kalau di sini ramainya setelah lebaran. Soalnya banyak pemudik yang beli batik sebagai oleh-oleh," imbuhnya.
Masih katanya, rata-rata batik yang ada di Pasar Batik Trusmi merupakan batik buatan Cirebon. Bahkan, ada juga batik yang terbuat dari bahan alami khas Ciwaringin.
Subandi juga berharap agar pandemi Covid-19 ini segera berakhir. Mengingat pembeli batik di Pasar Batik Trusmi berasal dari luar kota.
"Rata-rata batik buatan Cirebon. Ada juga batik dari Ciwaringin," tuturnya.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.