JAKARTA - Pemerintah kembali melakukan larangan mudik Lebaran. Dipastikan larangan mudik Lebaran pada 2021 berlaku kepada seluruh masyarakat.
(Baca juga: Kasus Covid-19 Bertambah 4.461, DKI Jakarta Nomor Wahid)
Epidemiolog Griffith University, Dicky Budiman menyambut baik langkah pemerintah yang sudah mengabil kebijakan larangan mudik dengan pertimbangan sains dan masukan para ahli. Dicky mengajak masyarakat untuk menjadikan kebijakan tersebut sebagai komitmen dan konsisten bersama.
(Baca juga: Aksi Heroik Emen si Tukang Becak Luluh Lantahkan Tank Canggih Inggris)
"Kita juga harus sosialisasikan di seluruh sektor. Masyarakat tentu perlu diberikan pemahaman bahwa imbauan ini bersifat wajib bahwa tidak ada pengecualian. Jika imbauan dan realita di lapangan berbeda maka berbahaya," kata Dicky saat dihubungi MNC Portal melalui telepon, Jumat (27/3/2021).
Dia menyebut banyak potensi ancaman dari strain baru yang lebih cepat salah satunya varian dari B 117.
Masih kata Dicky, upaya membatasi mobilisasi mobilitas manusia akala besar seperti mudik menjadi upaya efektif untuk mencegah penyebaran virus penyebab Covid-19.
"Saya mengingatkan bahwa studi epidemogi menemukan bahwa arus pergerakan manusia yang besar seperti mudik bisa meningkatkan kematian 10 persen satu bulan pasca itu. Dan dengan stran baru ini meningkatkan kematian 60 persen," jelasnya.