PES atau sampar adalah penyakit menular pada manusia yang disebabkan oleh enterobakteria yersinia pestis (dinamai dari bakteriolog Prancis A.J.E. Yersin). Penyakit pes disebarkan oleh hewan pengerat (terutama tikus).
Satu sampai tujuh hari setelah terpapar bakteri, gejala mirup flu itu berkembang. Gejala-gejala tersebut antara lain demam, sakit kepala , dan muntah, serta pembengkakan dan nyeri pada kelenjar getah bening , terjadi di area yang paling dekat dengan tempat bakteri masuk ke kulit. Kadang-kadang, pembengkakan kelenjar getah bening, yang dikenal sebagai " buboes.
FX. Domini B.B. Hera , sejarawan dan peneliti di Pusat Studi Budaya dan Laman Batas Universitas Brawijaya, Malang, seperti ditulis Tempo menceritakan , sang ibu bercerita kepadanya tentang kejadian pada 1911, saat kota mereka dihantam pagebluk pes.
Baca Juga: Kisah Sunan Gunung Jati Bangun Vihara di Banten
Penyakit itu dibawa kutu tikus yang terjangkit bakteri Yersinia pestis. “Banyak penduduk mati. Ketemu pagi, sorenya meninggal. Sore ketemu, malamnya meninggal. Petani juga tak berani ke sawah dan mencari pakan sapi karena takut tertular,” ujarnya.
Penyebab Pes diketahui gara-gara tikus yang terbawa beras dari Burma ke Jawa. Historia menulis, bencana diawali dari paceklik yang melanda Jawa. Persediaan beras berkurang drastis hingga kekurangan.
Pemerintah kolonial Hindia Belanda lantas mengimpor beras dari Burma, India, dan Tiongkok. Per Agustus 1910, peningkatan jumlah impor terjadi hingga bulan berikutnya.
Beras impor itu dikirim lewat kapal-kapal dan berlabuh di Surabaya. Dari Surabaya, beras diangkut kereta api ke daerah di selatan Surabaya yang mengalami paceklik.
Bersamaan dengan kebijakan impor beras itu, Burma sedang dilanda wabah pes. Namun, para petugas tidak mencurigai banyaknya tikus mati dan kutu-kutu saat muatan sampai di Sidoarjo.
Bisa diperkirakan, perjalanan yang berbulan-bulan itu, tikus ikut di dalam kapal, tikus, mencemari sambil makan berasnya kemudian buang kotoran.
Lewat beras impor itulah penyakit pes terbawa dari Burma ke Jawa. Perjalanan yang rencananya dilanjutkan ke Malang lalu ke Wlingi batal akibat terputusnya jalur Malang-Wlingi oleh banjir pada akhir 1910.
Alhasil, beras impor berikut tikus berkutu pembawa pes itu menginap di gudang-gudang sekitar Stasiun Malang. Udara Malang yang lembab membuat perkembangbiakan kutu-kutu tikus pembawa nestapa di gudang beras berjalan cepat.
Namun, tak ada kecurigaan saat ditemukan banyak tikus mati. Kecurigaan adanya penyakit pes baru muncul ketika 17 orang di Desa Turen, Malang meninggal setelah demam beberapa hari.
Dalam tesisnya “Dukun dan Mantri Pes”, Martina Safitri menyebut wabah dengan cepat menjalar ke Karanglo. Pada Maret 1911, hampir semua distrik di Malang dilaporkan terjangkit pes. Penyakit ini kemudian menjalar ke barat, yakni Kediri, Blitar, Tulungagung, dan Madiun. Surabaya sebagai tempat transit pertama karung-karung pembawa pes pun tak lepas dari penyakit ini.
Pada April 1911, pemerintah mengeluarkan Penetapan status epidemi pes. Bersamaan dengan itu, pengiriman beras dari luar Hindia-Belanda turun drastis. Pada akhir 1911, dilaporkan dua ribu orang meninggal akibat pes.
Melalui pelabuhan Tanjung Mas, pes masuk Semarang pada 1916. Dalam skripsi berjudul “Wabah Pes Di Kota Semarang”, Andhika Satria menulis tikus-tikus berkutu itu turun di pelabuhan dari kapal dagang asal Surabaya yang singgah.
Penyakit pes menyerang perkampungan penduduk yang kotor dan lembab tak lama kemudian. Antara Oktober 1916 sampai Desember 1917, belasan desa terserang pes. Ratusan orang tewas di Semarang.
Tirto menulis, Syefri Luwis dalam skripsi di Program Studi Ilmu Sejarah FIB UI bertajuk Pemberantasan Penyakit Pes di Wilayah Malang 1911-1916 (2008) menyebut Sumatra adalah daerah yang diduga pertama kali terjangkit bakteri pes.
Dari penelusurannya, ada beberapa kasus mirip pes ditemukan di pesisir timur Sumatra pada 1905. Anehnya, itu tak meledak jadi wabah dan kemudian lenyap secara misterius. Hingga paceklik di Jawa membuka jalan kemunculan pes lima tahun kemudian.
Meski telah jatuh korban meninggal, pemerintah lokal Malang maupun pemerintah kolonial tak yakin bahwa pes telah berjangkit di Jawa. Selain karena belum ada penelitian yang memadai, persebaran informasi juga terbatas.
Pemerintah kolonial baru teryakinkan bahwa pes sudah menjangkiti Malang pada akhir Maret 1911. Saat itu Laboratorium Medis kolonial menerima sampel darah dari seorang korban tewas akibat pes di Malang. Setelah diteliti, sampel itu dinyatakan terkontaminasi bakteri Yersinia pestis.
Gelombang pertama epidemi pes di Hindia Belanda. Dari Malang, wabah lalu merambah kota-kota di sekitarnya seperti Kediri dan Surabaya. Restu mencatat, pada 1912 diperkirakan sudah 2.000 orang meninggal gara-gara pes. Bahkan, pada 1915 wabah pes telah pula menjangkiti Surakarta dan Madura.
Gelombang kedua di Jawa Tengah tahun 1919 sampai 1928. Epidemi diawali di Pegunungan Ungaran, Gunung Sindoro, dan Sumbing, Merbabu, dan Merapi. Gelombang ketiga adalah di Jawa Barat 1930-1934. Pertama di Cirebon kemudian Priangan. Wabah pes menyebabkan kematian 2000 orang pertahun.
(Sazili Mustofa)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.