Share

Sedihnya Perempuan Golkar Dampingi LPA Asesmen Psikis 38 Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan

Avirista Midaada, Okezone · Rabu 23 November 2022 14:55 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 23 519 2713273 sedihnya-perempuan-golkar-dampingi-lpa-asesmen-psikis-38-keluarga-korban-tragedi-kanjuruhan-QsqROzJBzF.jpg Perempuan Golkar Bersatu mendapingi LPA lakukan asesmen ke 38 keluarga korban tragedi Kanjuruhan/Foto: Avirista Midaada

MALANG - Suasana haru dan sedih masih menyelimuti keluarga korban tragedi Kanjuruhan saat pendampingan psikis Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur. Mereka tampak sedih dan tak terima tragedi yang menewaskan 135 nyawa pascalaga Arema FC vs Persebaya Surabaya.

Tampak pendamping dari Lembaga Perlindungan Anak Jawa Timur l, bekerjasama dengan Perempuan Golkar Bersatu juga memberikan penanganan secara psikis ke 38 keluarga korban tragedi Kanjuruhan yang diundang datang di NK Kafe, pada Rabu pagi (23/11/2022).

 BACA JUGA:Apa perbedaan antara CIA dan FBI ? Yuk Simak!

Para keluarga korban yang diundang mayoritas merupakan keluarga yang anak-anaknya meninggal dunia pada peristiwa memilukan tersebut.

Mereka mendapat asesmen penanganan psikis agar menghilangkan rasa trauma bagi keluarga yang ditinggalkan anak-anaknya. Para keluarga diberi pendampingan oleh aktivis perempuan dan perlindungan anak dari LPA.

 BACA JUGA:Kejagung Bicara Peluang Menkominfo Diperiksa Kasus Dugaan Korupsi BTS

Mereka diminta menulis pohon harapan dan pohon kekhawatiran dari para keluarga korban. Terlihat masing-masing keluarga korban menuliskan pesan itu dan menempelkannya di pohon harapan dan pohon kekhawatiran.

Dari ungkapan yang disampaikan para keluarga korban melalui kertas yang tertempel dalam pohon harapan dan pohon kekhawatiran, para keluarga penyintas tragedi Kanjuruhan mengungkap kelih kesah mereka. Sejumlah tulisan mulai dari kekhawatiran kepada anak dan cucunya disampaikan.

"Takut kalau ini tidak nyata, takut masa depan dia tidak terwujud sesuai apa yang dia inginkan, takut dia terjerumus ke pergaulan yang tidak semestinya ia jalani karena banyaknya pergaulan bebas di luar sana," tulis keluarga korban di selembar kertas saat proses asesmen psikologis.

"Khawatir anaknya malu dan minder, khawatir anak gak mau sekolah karena minder soalnya ada bekas cacat di badannya. Khawatir pendidikannya tidak maksimal, cucu saya trauma bertemu orang lain, khawatir nasib sekolah dan hidup sehari-hari karena ditinggal ayahnya," tulisan salah satu keluarga korban tragedi Kanjuruhan kembali.

Sementara itu sejumlah pohon harapan berisi harapan - harapan ke depan anaknya juga disampaikan. "Mohon keadilan bagi anak saya seadil-adilnya, semoga acara ini membawa kebahagiaan bagi anak yang ditinggalkan untuk menghilangkan duka," demikian tulisan para keluarga korban.

Selain itu keluarga korban juga berharap anak mereka bisa terbebas dari trauma dan bisa berkembang dengan baik, serta menjadi pribadi yang lebih baik lagi untuk dia dan keluarganya, tercapai segala apa yang dia inginkan.

Tak ayal tulisan - tulisan ini sempat membuat Yanti Airlangga Hartarto dan sejumlah Perempuan Golkar Bersatu yang melihatnya tak kuasa meneteskan air mata. Beberapa kader perempuan Partai Golkar seperti Nadiah Zainuddin Amali yang merupakan istri Menpora Zainuddin Amali, Airin Rachmi Diany, Wanda Hamidah, dan Nurul Arifin, tak kuasa mengeluarkan air matanya.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Istri dari Menko Perekonomian Airlangga Hartarto juga beberapa kali mengabadikan foto dengan ponselnya di pohon harapan yang dituliskan oleh keluarga penyintas tragedi Kanjuruhan. Yanti tak bisa menyembunyikan kesedihannya saat membaca pohon - pohon harapan itu.

Bahkan Yanti Airlangga juga tampak beberapa kali memeluk ibu yang anaknya menjadi korban tragedi Kanjuruhan. Yanti dan perempuan Golkar lain yang menggandeng LPA memberikan pendampingan psikologis dan penguatan ke keluarga korban secara terpisah di bagian bangunan atas kafe.

Menurut Yanti, pohon harapan dan pohon kekhawatiran itu menjadi bukti keluarga korban masih mengalami trauma dan ketakutan akan masa depan mereka pasca tragedi yang merenggut keluarga mereka.

"Mereka masih ingin sekolah, tetap semangat dan bisa melanjutkan cita-cita mereka yang tentu cukup ada ketakutan untuk mereka tidak bisa melanjutkan sekolah," kata Yanti.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini