JAKARTA- Mengulik kisah sedih Hartini, istri Soekarno yang sempat tidak diakui. Pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 6 Juni 1901 dikenal memiliki istri lebih dari satu.
Salah satunya Hartini yang merupakansosok perempuan pendamping Presiden Bung Karno, setelah Fatmawati. Hartini merupakan istri keempat Bung Karno. Perempuan itu anak Osan. Ayah Hartini sendiri adalah pegawai Departemen Kehutanan.
Berikut ini kisah sedih Hartini, istri Soekarno yang sempat tidak diakui:
Hartini, kelahiran Ponorogo, Jawa Timur, pada 20 September 1924. Semasa kecil, Hartini menamatkan Sekolah Dasar (SD), di Malang, Jawa Timur. Di mana Hartini merupakan anak angkat oleh keluarga Oesman di Bandung.
Usai menempuh pendidikan SD di Malang, Hartini melanjutkan jenjang pendidikan di Nijheidschool (Sekolah Kepandaian Putri) di Bandung. Hartini menyelesaikan pendidikan SMP dan SMU di Bandung, Jawa Barat.
Semasa remaja, Hartini memiliki paras cantik. Ketika sudah beranjak dewasa Hartini menikah dengan Soewondo. Sejak menikah Hartini menetap di Salatiga.
Pada tahun 1952, Hartini berkenalan dengan Soekarno di Salatiga. Saat pertemuan pertama itu Bung Karno langsung menaruh hati dengan Hartini. Jatuh cinta, pada pandangan pertama. Di mana pertemuan itu berawal saat Bung Karno meresmikan Masjid Syuhada.
Berselang, sekira satu tahun kemudian, Soekarno dan Hartini kembali bertemu saat peresmian teater terbuka Ramayana di Candi Prambanan, Sleman, Yogyakarta.
Dari pertemuan itu Soekarno, sempat mengirimkan sepucuk surat kepada Hartini dengan nama samaran Srihana. Surat itu disampaikan oleh salah kerabat Bung Karno.
Berdasarkan catatan sejarah, Hartini banyak mengisi paruh kehidupan Soekarno. Hartini merupakan perempuan Jawa yang setia, nrimo dan penuh bekti terhadap guru laki.
Hartini meninggal di Jakarta 12 Maret 2002, dalam usia 77 tahun. Hartini dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak.
Hartini meninggalkan enam orang anak. Yakni, Bayu Soekarnoputra dan almarhum Taufan Soekarnoputra (berayah Bung Karno) serta Siti Suwandari, Herwindo, Tri Harwanto, dan Sri Wulandari (berayah Soeswondo).
(RIN)
(Rani Hardjanti)