Pada 11 Oktober, Trump mengumumkan bahwa Rusia dan Ukraina telah menyepakati “gencatan senjata energi”, namun ia tidak memberikan perincian lebih lanjut. Beberapa hari kemudian, Presiden Ukraina Zelensky menyatakan kepada Financial Times bahwa ia “sudah selesai” dengan gencatan senjata tersebut, setelah sebelumnya menahan diri untuk tidak menyerang fasilitas energi Rusia, sementara Moskow justru terus melancarkan serangan terhadap fasilitas energi Ukraina.
Pada Minggu, Zelensky menulis di platform X bahwa Rusia telah menyerang sektor energi, minyak, dan gas Ukraina sebanyak 76 kali dalam kurun waktu satu minggu sejak pengumuman Trump tersebut.
Ia menyebutkan bahwa fasilitas energi di empat wilayah Ukraina diserang dalam semalam, yang menyebabkan puluhan ribu keluarga kehilangan akses listrik. Ia menuduh Rusia berupaya untuk “menyebabkan pemadaman listrik total”.
Sementara itu, serangan udara Rusia menewaskan seorang perempuan di ibu kota Ukraina, Kyiv, pada malam hari, sekaligus menghantam sebuah stasiun kereta bawah tanah dan merusak sebuah gedung hunian 25 lantai, ungkap Wali Kota Vitali Klitschko melalui Telegram pada hari Senin.
Serangan tersebut, yang juga menghantam bangunan nonhunian serta fasilitas medis, melukai tiga orang lainnya di Kyiv, ujar Klitschko.
Dua serangan Rusia terhadap kota Zaporizhzhia di Ukraina selatan menewaskan seorang wanita dan melukai setidaknya dua orang lainnya, termasuk seorang anak perempuan berusia enam tahun, ungkap pejabat setempat pada Minggu.