Teluk Jakarta (Foto Dok: www.ranesi.nl)
JAKARTA - Pemerintah provinsi DKI Jakarta menyatakan kondisi pencemaran lingkungan di wilayah perairan Teluk Jakarta kritis. Ribuan kubik sampah dari limbah industri dan rumah tangga setiap harinya bermuara di Teluk tersebut.
"Pencemaran di Teluk Jakarta telah memasuki masa kritis," ungkap Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Sabtu, (21/11/2009). Diperkirakan saat ini per harinya 14 ribu kubik limbah sampah rumah tangga dan industri mencemari Teluk Jakarta yang mencapai luas 2,8 kilometer persegi. Kalau tidak segera ditangani, limbah tersebut mengancam kelestarian hutan bakau dan terumbu karang di sana.
Pria yang akrab disebut Foke ini, mengajak masyarakat menyelamatkan Teluk Jakarta. Dia memperkirakan produksi ikan dan budi daya laut lainnya menurun drastis hingga 38 persen dari biasanya.
"Karena memang Teluk Jakarta ini, bukan cuma milik pemerintah DKI saja, atau Ancol, tetapi juga milik seluruh stakeholder, termasuk warga Jakarta," ungkap dia.
Adapun Direktur Lingkungan Hidup Perkotaan Institut Hijau Indonesia Selamet Daroyni, menjelaskan sumber pencemaran wilayah perairan Jakarta disumbang oleh tumpahan minyak perusahaan pertambangan. "Termasuk juga limbah kapal besar dan kecil yang intensitas hilir mudiknya sangat tinggi," ungkapnya.
Lembaga ini mencatat sebanyak 6.500 ton sampah dihasilkan masyarakat dan pelaku industri di Jakarta per harinya. Sebesar 10% dari jumlah tersebut tidak tidak terangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA) dan masuk ke 13 aliran sungai yang ada. "Sampah tersebut selanjutnya terakumulasi di Teluk Jakarta," ungkapnya. Sehingga mencemari lingkungan di wilayah perairan Jakarta hingga ke wilayah Kabupaten Kepulauan Seribu.
Dia mendesak pemerintah untuk melakukan pengawasan ketat atas praktek pencemaran lingkungan. "Serta mengusut tuntas semua kasus pencemaran serta menegakkan hukum yang konsisten bagi pelanggarnya,' tegasnya. (frd) (Isfari Hikmat/Koran SI/hri)
Silahkan kirim komentar Anda. Kami berhak menghapus komentar apabila diperlukan