Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Pakar Politik UGM: Gaji Kecil Dorong Praktik Korupsi

Cuk Sahana , Jurnalis-Kamis, 12 Agustus 2010 |13:00 WIB
Pakar Politik UGM: Gaji Kecil Dorong Praktik Korupsi
Korupsi bikin malu saja (ist)
A
A
A

YOGYAKARTA - Pakar politik dan pemerintahan Universitas Gadjah Mada (UGM) Abdul Gaffar Karim menilai, praktik korupsi akan sulit diberantas di Indonesia bila kondisi struktural dan budaya yang masih permisif terhadap praktik korupsi. Ditambah, proses penegakan hukum bagi pelaku korupsi juga masih belum berjalan sebagaimana mestinya. Padahal dalam pandangannya, kondisi lingkungan budaya saat ini mendorong orang untuk melakukan korupsi.

"Pegawai atau pejabat dianggap berhasil jika bisa menumpuk harta kekayaannya dalam jumlah lebih banyak. Meski masyarakat tidak mau ambil tahu dari mana uang tersebut didapatkan," papar Gaffar dalam sebuah diskusi, baru-baru ini, di UGM.

Gaffar tidak sependapat jika korupsi dianggap lumrah terjadi di negara berkembang dengan merujuk pada Malaysia dan Brunei Darussalam yang bisa menekan praktik korupsi. Dia lebih sepakat menilai kondisi struktural keuangan kepegawaian dengan gaji yang lebih kecil, mendorong korupsi terjadi di mana-mana. Mulai dari mark up hingga honor fiktif, dilakukan untuk menguras anggaran. Berbeda dengan negara yang sudah maju, struktur penggajian yang jauh lebih besar kepada pegawai sehingga menyebabkan mereka tidak berpikir untuk mencari uang tambahan di luar gajinya.

"Di Australia misalnya, seorang peneliti bisa mendapatkan honor dari 75 persen total dana penelitiannya. Karena kinerja intelektual dibayar lebih mahal. Sementara di Indonesia, justru kinerja intelektual dibayar lebih kecil dibandingkan untuk pembelian alat," urainya.

Sementara itu psikolog Hariyanto menuturkan, praktik korupsi dapat diberantas dengan dimulai dari pribadi masing-masing dan tidak membiarkan praktik korupsi terjadi di lingkungan kerjanya. Mereka yang melakukan korupsi, umumnya memiliki kepribadian ganda (split personality). Meski melakukan korupsi, namun mereka juga tetap menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinannya.

"Bagi mereka, Tuhan itu ada di masjid, pura atau di gereja. Mereka tetap sumbang uang ke masjid, ke orang miskin, dan melaksanakan ibadah haji,” kata Hariyanto.

(Rani Hardjanti)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement