JAKARTA - Kejadian banjir lahar dingin yang menerjang permukiman dan infrastruktur di sekitar Merapi terus belangsung hingga saat ini. Lahar dingin merupakan material hasil erupsi yang mengalir akibat bercampur dengan air hujan dengan kecepatan aliran cukup besar.
Erupsi Merapi 2010 menghasilkan material 140 juta meter kubik. Sekitar 60 persen berada di barat Merapi dan 40 persen di selatan Merapi. Di bagian selatan mengarah ke Kali Gendol dan hulu Kali Opak, sedangkan di barat melalui Kali Krasak, Kali Putih dan Kali Pabelan.
“Hingga saat ini diperkirakan baru 25 persen material yang dialirkan melalui lahar hujan, sehingga diproyeksikan masih akan berlangsung 3-4 tahun ke depan,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) DR. Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangannya, Jumat (29/4/2011)
Dampak yang ditimbulkan lahar dingin cukup besar. Hingga saat ini BNPB, dan pemerintah daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah masih menghitung besarnya kerugian dan kerusakan dari lahar dingin. Tercatat dampak dari lahar dingin di DIY 24 jembatan putus, 46 rumah rusak berat, 51 bendung irigasi tidak berfungsi, 285 hektar lahan pertanian terendam dan sebagainya.
Di Jawa Tengah dampak lahar dingin lebih besar. Tercatat 4 orang meninggal dan 168 orang luka akibat lahar dingin sejak Januari 2010 hingga sekarang. Di Magelang, terdapat 3.452 orang mengungsi yang tersebar di 13 lokasi di 6 kecamatan yaitu Kecamatan Muntilan, Salam, Mungkit, Ngluwar, Srumbung dan Sawangan. Kerusakan rumah mencapai 721 unit rumah, dimana 129 hanyut, 307 rusak berat, 129 rusak sedang, dan 156 rusak ringan.
Dikatakan Sutopo, hingga saat ini sebanyak 443 kepala keluarga harus direlokasi karena rumahnya tidak dapat ditempati kembali. Selain itu, menimbulkan kerusakan ruas jalan nasional Blabak-Muntilan-Salam Km 3 di Magelang, 13 ruas jalan kabupaten (5 ruas di Klaten, 7 ruas di Magelang dan 1 ruas di Boyolali), dan 7 ruas jalan desa (6 ruas di Klaten, 1 ruas di Magelang). Demikian pula dengan jembatan dimana kerusakan 10 unit jembatan nasional (8 unit di Prov DIY, 2 unit di Magelang), 1 unit jembatan provinsi di Magelang, serta 7 unit jembatan desa di Magelang.
Hingga sekarang status darurat lahar dingin di Magelang masih ditetapkan oleh Pemda Magelang. Upaya penanganan darurat terus dilakukan. 90 unit alat berat dikerahkan untuk menangani jalur Magelang-Yogyakarta yang terputus. Puluhan alat berat ditempatkan di sekitar aliran sungai yang berhulu di Gunung Merapi.
Guna mendukung penanganan tersebut, BNPB telah memberikan dana siap pakai kepada BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) Serayu-Opak sebesar Rp20 miliar. Ini diperuntukkan guna perbaikan darurat normalisasi sungai, pembersihan, pengerukan intake saluran, perbaikan dam, tanggul di Kali Putih, Kali Krasak, Kali Batang, Selokan Mataram, Kali Bawang, Kali Kuning, dan Kali Gendol sebanyak 6 paket pekerjaan .
“Saat ini BNPB telah mengajukan kepada Menteri Keuangan pencairan dana siap pakai sebesar Rp444,7 miliar untuk perbaikan darurat bencana lahar dingin Merapi sesuai permintaan Menteri PU kepada BNPB. Dana tersebut akan diperuntukkan bidang sumber daya air Rp181 miliar, bidang bina marga Rp232,3 Miliar, dan bidang cipta marga Rp 31,4 Miliar.
(ugo)