JAKARTA - Lagi-lagi, polisi jadi korban tembakan dari warga sipil. Kemarin, dua anggota kepolisian Palu, Sulawesi Tengah, tews ditembak saat menjaga ATM BCA di sana.
Kenapa warga sipil bisa “bebas” menembaki polisi? Kata kriminolog Universitas Indonesia (UI) Adrianus Meliala, dalam kasus seperti itu, bukan polisi yang salah.
“Tapi ini adalah indikasi adanya kemampuan destruktif masyarakat yang tinggi. Polisi kan itu hukum yang terlihat,” kata dia ketika berbincang dengan okezone, Kamis (26/5/2011).
Ternyata, lanjut dia, masyarakat sipil sekarang memiliki senjata dan mampu menghancurkan polisi sebagai simbol hukum. “Jangan salahkan polisi. Ada elemen di masyarakat yang bisa mendestruksi, ada senjata, ada kelompok, dan ada perencanaan,” paparnya.
Lalu bagaimana seharusnya polisi mengantisipasi kejadian serupa? Kalau dikatakan polisi terkesan tidak siap, menurut Adrianus, itu karena citra polisi yang ingin dekat dengan masyarakat. Karena itu, dalam keadaan aman polisi harusnya memang tidak perlu bawa senjata.
“Kan kita yang rugi kalau polisi bawa senjata lengkap. Nanti dibilang tidak demokratis,” sambungnya.
(Lamtiur Kristin Natalia Malau)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.