JAKARTA - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan melakukan berbagai upaya untuk meluruskan kembali sejarah tentang peristiwa 1965, yang menurut NU selama ini penuh dengan rekayasa yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).
Diantaranya, NU akan menerbitkan berbagai tulisan yang menceritakan tentang bagaimana sebenarnya kronologis terjadinya peristiwa yang berujung pada peralihan kepemimpinan dari Presiden Soekarno, ke Soeharto itu.
Selain itu, PBNU juga secara pro aktif sering melakukan pertemuan maupun acara doa bersama untuk para kyai dan santri yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut.
"Dengan tulisan-tulisan, juga pendekatan-pendekatan seperti ini. Tadi malam, tadi pagi, ada acara (peringatan dan doa) tanpa dikomando," kata Wakil Ketua PBNU As'ad Said Ali kepada wartawan di Kantor PBNU, Jakarta, Senin (1/10/2012) malam.
Terkait rencana PBNU untuk menerbitkan tulisan tentang peristiwa tersebut, As'ad mengaku bahwa pihaknya seringkali didatangi oleh para pelaku dan saksi dalam peristiwa 1965 itu yang kemudian bersedia memberikan keterangan untuk dibukukan.
"Kita bikin tulisan sejarah. Dan juga banyak pelaku-pelaku yang mengajukan kepada kami agar bukunya diterbitkan," terangnya.
Penulisan buku tersebut, sambung As'ad dilakukan bukan untuk membangkitkan kembali trauma masyarakat terhadap peristiwa tersebut. Namun hal itu dilakukan hanya untuk memberikan klarifikasi bahwasanya pihak NU tidak bersalah dalam peristiwa itu.
"Bukan untuk mengungkit masa lalu. Tapi kita menjadi korban sekarang, kena fitnah. Ini memang momen kita untuk meluruskan di masyarakat. Karena sejarah tidak bisa dihapus. Kalau sekarang kita tidak meluruskan kita khawatir sejarah lain ceritanya," tutup As'ad.
(K. Yudha Wirakusuma)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.