BANTUL-Tradisi nguras enceh (genthong/kong) di Puralaya Kompleks Makam Raja-raja Mataram di Pajimatan, Imogiri, Bantul, Jumat (18/1/2008) masih menjadi daya tarik masyarakat.
Ratusan masyarakat dari berbagai daerah berebut luapan air dari enceh, bahkan tak sedikit yang meminumnya atau membawa pulang.
Ratusan warga yang juga datang dari berbagai daerah luar DIY, menurut beberapa jurukunci datang sejak malam hari untuk melakukan ritual mubeng beteng makam raja-raja Mataram. Sedangkan pada siang harinya, banyak juga pengunjung yang nyekar karena saat itu memang terbuka untuk umum.
Prosesi nguras enceh dimulai sekitar pukul 09.00 WIB dengan kenduri bersama yang dipimpin sesepuh jurukunci Puralaya Imogiri. Usai kenduri atau selamatan dilanjutkan pencucian empat enceh Nyai Danumurti, Kyai Danumaya, Kyai Mendung dan Kyai Siyem.
Usai penyucian dilanjutkan dengan pengisian enceh. Luberan air dari enceh diperebutkan pengunjung yang dipercaya oleh mereka konon mempunyai khasiat tertentu.
"Kalau orang percaya maka air tersebut dapat menyembuhkan berbagai penyakit" ujar Sunyoto warga Singosaren, Imogiri Bantul.
Menurut beberapa jurukunci makam raja-raja Mataram, dari cerita turun-temurun, pada zaman Sultan Agung air dari enceh dapat menjadi perantara penyembuhan penyakit.
"Bagi yang percaya, air tersebut dapat menjadi sarana tolak bala serta perantara untuk mengobati berbagai penyakit," ungkap salah seorang jurukunci di makam itu.
Cerita yang hingga saat ini berkembang di masyarakat Jawa, keempat genthong koleksi makam Puralaya Imogiri memang erat hubungannya dengan sejarah berdirinya kerajaan Mataram. Air yang dimasukkan di dalam keempat genthong tersebut, dulu dipergunakan untuk berwudhu pendiri Mataram, Sultan Agung. Bahkan ketika itu, menurut cerita, air genthong dijadikan sarana pengobatan berbagai penyakit.