BLITAR - Kasus penyakit diare di Kota Blitar, Jawa Timur, merajalela. Dalam waktu 7 bulan, terhitung bulan Januari-Juli 2009 telah terjadi 1.000 kasus diare. Bahkan dari ribuan kasus tersebut dua orang pasien meninggal dunia pada Mei 2009 lalu.
Menurut keterangan Kepala Bidang Pencegahan Penyakit Menular (PSM) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Blitar, Endang Mintarsih, jumlah penyakit yang disebabkan bakteri ecoli itu berdasarkan laporan 3 Puskesmas dan RSUD Mardi Waluyo Blitar yang masuk ke dinas.
"Hanya saja tidak seluruhnya menjalani rawat inap. Sebagian besar dari 1.000 orang penderita ini memilih rawat jalan," ujarnya kepada wartawan, Rabu (15/7/2009).   Â
Dari 1.000 orang penderita diare, sebagian besar anak-anak dengan rentang usia 1-12 tahun. Sedangkan sisanya berusia remaja dan dewasa.
Tingginya kasus ini lebih dikarenakan pergantian musim penghujan ke kemarau (pancaroba), selain pola hidup tidak sehat. Berdasarkan penghitungan cuaca, masa pancaroba berlangsung mulai April-Juni dalam setiap tahun.
Keadaan itu, menurut Endang diperparah banyaknya debu dan lalat yang berperan sebagai media penyebar. Para penderita biasanya akan kekurangan cairan karena terlampau sering BAB hingga 5 kali sehari.
"Ditambah lagi pola hidup yang kurang bersih. Hal ini membuat warga mudah sekali tertular. Penderita akan lemas karena kurang cairan. Jika terlambat ditangani bisa mengakibatkan kematian," terangnya.
Meski dirawat di wilayah kota Blitar, pasien diare ini tidak seluruhnya warga Kota Blitar. Ada beberapa warga Kabupaten Blitar yang dirujuk ke RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar. Endang mengimbau kepada keluarga pasien untuk memberikan larutan Oralit atau air garam untuk pertolongan pertama.
"Namun jika tetap tidak membaik, sebaiknya segera dibawa ke puskesmas atau rumah sakit," pungkasnya.
(M Budi Santosa)