Pedestrian DKI Buruk

Neneng Zubaidah, Jurnalis
Selasa 10 November 2009 20:17 WIB
Share :

JAKARTA - Pedestrian di kota maju seperti di DKI Jakarta ternyata masih jauh dari manusiawi. Padahal pedestrian dapat mengurai stagnansi arus lalu lintas.

Mantan Wali Kota Bogota Enrique Penalosa mengatakan, di kota maju di belahan dunia lain lebar pedestrian lebih luas dibandingkan jalan raya. Dirinya berpendapat indikator kota sudah maju bukan berarti banyak mall ataupun jalan tol, melainkan harus mengurangi jumlah kendaraan dan bukan menambah fasilitas jalan.

Dalam pidatonya dalam Sustainable Jakarta Convention 2009 di Hotel Four Seasons Selasa (10/11/2009), pemerintah seharusnya membuat prioritas pembangunan untuk publik. Kalaulah ada pembangunan jalan, jangan dibuat untuk kepentingan kendaraan pribadi namun untuk publik.

"Seperti pemerintah di Boston dan Seoul yang menghancurkan jalan tol dan menggantinya dengan areal publik," jelasnya.

Hal yang paling mudah untuk mempersempit ruang bagi kendaraan pribadi adalah pelebaran pedestrian yang berguna bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda.

"Daripada menghabiskan banyak uang untuk membangun jalan lebih baik dibuatkan saja pedestrian," ujarnya.

Pedestrian di Paris dan London, katanya, bahkan sudah tertata dengan nyaman. Fungsinya juga tidak hanya sebagai jalur jalan, namun juga proses interaksi sosial yang lebih efektif daripada taman.

Berdasarkan pantauan, di ibu kota saat ini kondisi pedestrian tidak membuat para pejalan kaki nyaman. Pedestrian banyak rusak, diserobot kendaraan bermotor dan tempat usaha pedagang kaki lima. Misalnya pedestrian di Jakarta Timur, seperti Jalan Raya Condet, Jalan Dewi Sartika, Jalan Kalibata.

Sementara di Jakarta Pusat yakni di Jalan Gatot Subroto. Di Jakarta Barat seperti di Jalan Pal Merah, Jalan Kemandoran, Jalan Raya Kebon Jeruk, Jalan Panjang, Jalan Kedoya Raya, hingga Jalan Puri Kembangan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta Budi Widiantoro menjelaskan, tidak ada penambahan pedestrian yang akan dilakukan pada tahun depan. Yang ada hanya pemeliharaan taman di mana taman tersebut akan ditambah konblok dan pembersihan rumput liar.

"Dana pemeliharaan taman Rp500 juta yang dibagi per wilayah," lugasnya.

Ketua Studi Arsitektur Lansekap Indonesia (Kesali) Nirwono Yoga mengatakan, lebar pedestrian yang sekarang terpapar di Jakarta, yakni antara satu hingga tiga meter bukanlah luas ideal. Seharusnya, luas pedestrian di kota metropolitan seperti Jakarta mencapai enam meter yang bisa dipakai untuk pejalan kaki dan sepeda.

Lalu, pedestrian tersebut pun harus menyatu dengan halaman gedung. Tidak boleh ada pagar tinggi setinggi tiga meter yang memisahkan antara gedung dengan pejalan kaki.

"Lebih baik lagi kalau jalur pejalan kaki antara gedung satu dengan yang lain menyatu sehingga tidak perlu pindah parkir lagi," terangnya.

Pedestrian yang lebar juga masih dapat menampung lampu dan tempat sampah sehingga tidak terlihat menumpuk di satu tempat. Pemprov pun perlu bekerjasama dengan pengelola gedung perkantoran untuk menentukan desain pedestrian yang sesuai dengan karakter jalan yang dimaksud.

(Hariyanto Kurniawan)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya