BULUKUMBA- Sejumlah dokter ahli yang menggerakkan aksi mogok di Rumah Sakit Umum Sultan Daeng Radja, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, dimutasi ke puskesmas.
Sebagian dari mereka memilih mundur dari pegawai negeri sipil (PNS) karena menilai mutasi tersebut tidak wajar dan menyalahi aturan.
Kisruh antara pegawai dengan pengelola RSUD Sultan Daeng Radja masih terus bergulir. Akibatnya rumah sakit yang menampung pasien dari 10 kecamatan ini terancam kekurangan dokter spesialis.
Sejumlah dokter ahli yang ikut andil dalam aksi mogok kerja dimutasi ke puskesmas di pedesaan. Salah satunya dr Rizal SpOg, satu-satunya dokter spesialis kandungan yang tersisa di RSUD yang juga dimutasi.
Saat ini jumlah dokter ahli di RSUD Sultan Daeng Radja sudah sangat minim. Padahal pasien sangat membutuhkan dokter spesialis di rumah sakit.
Lucunya lagi, ada kemungkinan pasien akan dirujuk dari rumah sakit ke puskesmas.
Berbeda dengan dokter spesialis anak, dr Wiwik SpA. Ketimbang dimutasi, dia lebih memilih mundur dari PNS. Wiwik termasuk salah satu dokter yang dimutasi ke puskesmas sebagai buntut aksi mogok pegawai yang menuntut pembayaran jasa yang mandul sejak 2009.
Apalagi, peran Wiwik dalam aksi sangat besar. Dia adalah juru bicara aksi mogok yang sempat melumpuhkan aktivitas rumah sakit.
RSUD Sultan Daeng Radja pun kini di ujung tanduk. Dokter ahli kini tinggal enam orang. Itu pun beredar kabar akan ada lagi dokter yang akan mengundurkan diri dari PNS, belum lagi yang meminta pensiun dini.
Dampaknya, sejumlah warga beramai ramai turun ke jalan meminta agar bupati merombak manajemen rumah sakit.
Selain itu, warga juga mengecam mutasi sejumlah dokter ahli yang sangat merugikan pasien. Mereka meminta aga dokter ahli yang dimutasi ke puskesmas dikembalikan ke rumah sakit.
(Dian AF)