Kisah Pengusaha Cicak

Mukhtar Bagus, Jurnalis
Kamis 21 April 2011 05:43 WIB
Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)
Share :

JOMBANG - Bagi kebanyakan orang cicak merupakan binatang yang menjijikkan. Namun bagi sejumlah warga Jombang, Jawa Timur, cicak menjadi sumber penghidupan. Setiap hari sejumlah warga tersebut mengolah cicak untuk dikeringkan dan hasilnya di ekspor keluar negeri melalui pihak ketiga.

Mereka adalah warga Desa Jombok, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Tanpa merasa jijik dan rikuh sedikitpun, seperti Suparlan (45), salah seorang pengepul cicak, dia mengolah ribuan dan bahkan mungkin ratusan ribu bangkai cicak. Dia bahkan mempekerjakan beberapa orang untuk membantunya.

Caranya juga cukup mudah, cicak-cicak ini ditata pada sebuah wadah dengan posisi terlentang lalu di masukkan ke dalam mesin oven selama satu hari satu malam. Setelah kering, cicak ini kemudian dikumpulkan dan dimasukkan dalam plastik siap untuk di ekspor.

“Awalnya memang jijik, tapi lama-lama ya jadi terbiasa,” ujar Inayah, salah seorang pekerja pengolahan cicak.

Suparlan mengaku sudah lebih dari 10 tahun menggeluti usahanya. Menurut dia, awalnya hanya menjadi pengepul dan penyedia daging katak saja, namun lama kelamaan ia mendapat order dari seorang importir untuk mengolah cicak yang dikeringkan.

Melalui importir atau pihak ketiga tersebut, cicak-cicak kering ini konon diekspor ke Eropa dan Amerika untuk bahan obat-obatan. Suparlan mengaku mendapat pasokan cicak-cicak ini dari para pemburu dengan harga Rp25.000 per kilogram. Namun setelah dikeringkan dalam mesin oven, cicak kering ini laku hingga Rp100.000 per-kilogramnya.

Dengan dibantu tujuh pekerja, dalam sebulan, rata-rata Suparlan mampu memproduksi cicak kering antara 40 hingga 70 kilogram. Kini usaha Suparlan tidak hanya pada katak dan cicak saja, namun juga terus berkembang pada ular dan tokek.

Hampir setiap hari, puluhan hingga ratusan ekor ular dan tokek dibunuh lalu di keringkan oleh Suparlan. Namun untuk harga beli dan harga jualnya suparlan masih merahasiakannya karena khawatir usahanya ini ditiru oleh orang lain.

(Muhammad Saifullah )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya